Kota Cimahi – Memasuki usia ke-25 tahun pada 21 Juni 2026 mendatang, Kota Cimahi tercatat memiliki sejumlah capaian yang membanggakan dan patut di apresasi.
Namun capaian tersebut bukan puncak dari setiap perjuangan untuk mencapai Kota Cimahi yang lebih baik dan mensejahterakan seluruh masyarakatnya di masa mendatang.
Sebuah gagasan penting untuk terus mengawal Kota Cimahi dengan melibatkan berbagai unsur di dalamnya, menjadi agenda Komponen Mayarakat Pendukung Cimahi Otonom (KMP-CO) dalam menyambut usia perak Cimahi.
Baca juga: BGN Setop Operasional Dapur MBG Selama Libur Sekolah Akhir Tahun Ajaran
Pada Rabu (17/6/2026) KMP-CO menggelar sebuah Sarasehan bertajuk “Cimahi Kamari, Kiwari, Jeung Kumaha Kahareupna”, yang berlangsung di Aula Hotel Tjimahi.
Sebuah kegiatan yang merefleksikan kondisi Kota Cimahi pada waktu sebelumnya, kini, dan arah kota tersebut di masa mendatang, menghadirkan tokoh pendiri Kota Cimahi, akademisi, dan juga masyarakat.
Forum tersebut juga menjadi wujud dari kontrol sosial, sekaligus manifesto dialektis intelektual terhadap jalannya pemerintahan daerah Kota Cimahi. Terdapat sejumlah masukan dan kritik yang muncul dari kegiatan tersebut, yang ditujukan kepada pemerintah.
Baca juga: Peringati Tahun Baru Islam, Menag Ingatkan Pentingnya Saling Percaya Demi Bangun Negara
“Kita memilih jalan demokrasi dari, oleh, dan untuk rakyat. Kritik bukanlah musuh, melainkan obat penawar agar kekuasaan tidak tersesat dalam kegelapan. Pemkot tidak boleh menutup mata. Akuntabilitas wajib ditingkatkan berlipat ganda,” tegas Dedi Mulyadi, Ketua KMP-CO.
Dedi mengaku, kegiatan sarasehan dilatarbelakangi kondisi Cimahi yang tengah terpuruk menanggung beban pada empat sektor penting.
Keempat sektor yang dimaksud Dedi dan menjadi pekerjaan rumah bagi pemangku kepentingan, di antaranya ekonomi, kesehatan, ketenagakerjaan, serta ekologi dan infrastruktur.
Baca juga: Lakukan Kunjungan Kenegaraan, Presiden Jerman Telusuri Terowongan Siaturahmi
Saat ini lanjut Dedi, struktur ekonomi kota Cimahi masih didominasi (45,70 persen) sunset industry (industri pengolahan konvensional). Konsep industri yang demikian menurutnya justru rapuh saat diterpa guncangan global.
Sementara pada sektor kesehatan, di kota dengan tiga kecamatan itu, masih memiliki tantangan cukup berat ketika angka stunting masih 21,43 persen.
Dalam catatan Dedi, soal ketenagakerjaan juga menjadi sorotan penting ketika Tingkat Pegangguran Terbuka mengalami peningkatan dua digit.
Baca juga: Pangdam III Siliwangi Jadi Penceramah di Peringatan Tahun Baru Islam Kota Bogor
Terakhir, dari sektor ekologi dan infrastruktur, KMP-CO memberi rapor kuning, berdasarkan fakta indeks kualitas lingkungan hidup IKLH pada level 50,35, kemacetan, serta kondisi Pasar Antri yang masih semrawut.
Melalui sarasehan, KMP-CO juga mengingatkan pemerintah kota akan pentinganya langkah pengawasan dan evaluasi berkelanjutan dan konsisten untuk menuju visi RPJPD, yakni “Cimahi Camperenik 2045”.
“Melalui momentum perak ini, kami ingatkan pembangunan Cimahi tidak boleh berjalan di ruang samar-samar,” tandas Dedi.
Baca juga: Nasib Tahu Tempe di Tengah Harga Kedelai Terus Meninggi
Ketua KMP-CO itu jua mengatakan dalam pengawalan prosespembangunan, pemerintah perlu menguji validitas data berdasarkan hasil kajian di lapangan, menolak kompromi politik yang destruktif, serta membuka partisipasi publik yang luas.































