Peternak Ayam Jabar Dibidik Naik Kelas Hingga Pasar Ekspor

Jawa Barat66 Dilihat

Kota Bandung – Pengembangan peternakan ayam petelur di Jawa Barat tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan produksi pangan. Sektor ini mulai diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi daerah yang menghubungkan peternak, lembaga keuangan, pemerintah, industri, hingga pasar ekspor.

Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kemitraan terpadu dari hulu hingga hilir. Skema ini diharapkan dapat menjawab sejumlah persoalan yang selama ini dihadapi peternak, terutama akses pembiayaan, penguatan tata kelola usaha, kepastian pasar, hingga peningkatan skala produksi.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat Darwisman mengatakan, lembaganya memiliki peran dalam membangun ekosistem pembiayaan yang memungkinkan pelaku usaha peternakan terhubung dengan berbagai pemangku kepentingan.

Baca juga: Lebih dari 10 Tahun Sekolah Budi Bakti Utama Pertahankan Budaya Bebersih Situ Ciburuy

“Peran utama OJK tentunya adalah memfasilitasi terbangunnya ekosistem yang terintegrasi dalam konteks pengembangan budidaya ayam petelur ini. OJK berperan penting dalam memberikan edukasi dan literasi keuangan, sekaligus memfasilitasi kerja sama dengan pemerintah daerah yang memegang kebijakan di wilayah Jawa Barat,” ujar Darwisman, Jumat (25/09/2026)

Menurut dia, ekosistem tersebut tidak hanya mempertemukan peternak dengan perbankan. Kemitraan juga melibatkan lembaga penjaminan kredit serta pelaku usaha yang berada dalam rantai pasok bagian hilir.

Dengan pola tersebut, kebutuhan peternak di tingkat produksi diharapkan dapat terhubung dengan dukungan pembiayaan sekaligus akses pasar. Artinya, pembiayaan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari rangkaian usaha yang saling berkaitan.

Baca juga: Bupati Bandung Ungkapkan Keinginan Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan Lewat Peningkatan SDM

Darwisman mengatakan, penguatan kemitraan juga diarahkan untuk membuka peluang lebih besar bagi komoditas peternakan Jawa Barat memasuki pasar ekspor.

“OJK memfasilitasi untuk mengolaborasikan dan mensinergikan seluruh pihak, sehingga ekosistem tersebut dapat benar-benar bergerak dan berjalan secara optimal,” katanya.

Ruang Pembiayaan Masih Terbuka

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman melihat pengembangan ayam petelur memiliki kaitan erat dengan agenda peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurut dia, sektor tersebut berpotensi berkontribusi terhadap dua kebutuhan sekaligus, yakni pemenuhan pangan dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Baca juga: Persoalan Pengadaan Seragam Sekolah di Kota Cimahi

Herman mengatakan, pengentasan kemiskinan pada dasarnya memiliki dua pendekatan, yaitu mengurangi beban pengeluaran masyarakat dan meningkatkan pendapatan.

“Pengembangan komoditas ayam, baik pedaging maupun petelur, memiliki potensi luar biasa untuk menjawab kedua hal tersebut sekaligus, baik sebagai pemenuhan gizi keluarga maupun sebagai komoditas industri bernilai ekonomi tinggi,” ujar Herman.

Namun, pengembangan sektor tersebut masih menghadapi pekerjaan rumah, terutama dari sisi pembiayaan. Herman menyebut potensi kredit yang dapat diserap sektor peternakan ayam petelur diperkirakan mencapai Rp565 miliar.

Baca juga: Pemkab Bandung Pastikan Stadion SJH Siap Jadi Venue FIFA ASEAN Cup 2026

Sementara itu, plafon pembiayaan yang telah tercatat baru sekitar Rp81 miliar, dengan outstanding sebesar Rp49 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ruang pembiayaan yang cukup besar untuk mengembangkan usaha para peternak.

Besarnya ruang pembiayaan tersebut sekaligus menuntut peternak meningkatkan kualitas pengelolaan usaha. Akses kredit tidak cukup hanya tersedia, tetapi harus didukung kemampuan mengelola usaha secara sehat agar pembiayaan dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Herman juga mendorong industri perbankan, termasuk Bank BJB serta bank-bank Himbara seperti BNI, BRI, dan Mandiri, untuk memperluas kemudahan akses pembiayaan dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian.

Baca juga: DPRD Bandung Barat Respons Keinginan Warga Desa Ciburuy, dari Reaktivasi Tersier Air Hingga Bangun Jalan Alternatif

Menurut dia, layanan pembiayaan perlu mengedepankan prinsip faster, cheaper, easier, and better. Namun, kemudahan tersebut harus berjalan beriringan dengan edukasi dan literasi keuangan.

Hal itu penting agar peternak tidak mencari alternatif pembiayaan yang berisiko, termasuk pinjaman ilegal maupun praktik pinjaman informal yang dapat membebani usaha.

Pengembangan ekosistem ayam petelur juga ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat perekonomian Jawa Barat. Pemerintah provinsi mencatat pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada kuartal II secara tahunan mencapai 5,73 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 5,29 persen.

Baca juga: Ketika Media Asing Soroti Popularitas Dedi Mulyadi Jelang Pilpres 2029

Di tengah capaian tersebut, pemerintah masih menghadapi tantangan berupa pengangguran dan kemiskinan. Karena itu, pengembangan komoditas yang memiliki keterkaitan langsung dengan masyarakat dinilai penting untuk menciptakan sumber pendapatan baru.

Herman menekankan agar program pengembangan ayam petelur tidak berhenti pada kegiatan administratif. Program tersebut harus memberikan dampak nyata bagi peternak dan masyarakat.

Sebanyak 153 peternak yang terlibat dalam kerja sama ini diharapkan mampu memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk meningkatkan skala usaha. Target akhirnya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membuka peluang menembus pasar yang lebih luas, termasuk ekspor.

Baca juga: Percepatan Pendidikan Gratis TK-Perguruan Tinggi Mulai Dibahas Prabowo Bersama Kabinet Merah Putih

Bagi Jawa Barat, pengembangan peternakan ayam petelur dengan pendekatan ekosistem menunjukkan perubahan cara pandang dalam membangun sektor usaha. Peternak tidak ditempatkan sebagai pelaku yang berjalan sendiri, melainkan bagian dari rantai ekonomi yang membutuhkan dukungan pembiayaan, pendampingan, tata kelola, industri, dan pasar.

Jika seluruh mata rantai tersebut dapat berjalan secara konsisten, sektor ayam petelur tidak hanya berfungsi memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Komoditas ini juga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, memperluas kesempatan usaha, sekaligus meningkatkan daya saing produk Jawa Barat di pasar nasional maupun internasional.***(Djarot)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *