Pendidikan Pariwisata Dituntut Cetak Talenta, Bukan Sekadar Pekerja

Pendidikan17 Dilihat

Kota Bandung – Industri pariwisata tidak lagi cukup mengandalkan lulusan yang siap bekerja. Perubahan teknologi, tuntutan wisatawan, hingga kebutuhan terhadap pengalaman yang semakin personal membuat pendidikan tinggi pariwisata dituntut melahirkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sekaligus kemampuan beradaptasi.

Ketua Komisi X DPR RI Ferdiansyah mengatakan keberadaan perguruan tinggi pariwisata memiliki peran penting untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia di sektor tersebut. Namun, pendidikan pariwisata menurut dia perlu disesuaikan dengan karakter dan potensi daerah serta arah pengembangan pariwisata Indonesia.

Ia menilai keberadaan perguruan tinggi pariwisata tidak harus tersebar di setiap provinsi. Yang lebih penting adalah setiap institusi memiliki kekhususan dan kompetensi yang jelas sehingga dapat mendukung pengembangan destinasi maupun kebutuhan industri.

Baca juga: Ini Alasan Wakapolresta Bandung Serahkan Tugas dan Tanggung Jawab Kepada Kapolresta

“Menjadi penting keberadaan Poltek Pariwisata di Indonesia dan yang paling penting juga tidak mesti harus dilakukan di setiap provinsi,” kata Ferdiansyah dalam wawancara kepada awak media.

Menurut dia, lulusan pendidikan pariwisata juga perlu memiliki keberanian menciptakan lapangan pekerjaan. Mereka tidak harus seluruhnya berorientasi menjadi pekerja di industri, tetapi dapat mengembangkan usaha berbasis potensi pariwisata di daerah masing-masing.

Ferdiansyah mencontohkan berbagai komponen pariwisata yang sebenarnya sudah tersedia di daerah, seperti hotel, restoran, destinasi dan komunitas. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikemas menjadi sebuah pengalaman wisata yang menarik.

Baca juga: Satreskrim Polresta Bandung Tangkap Produsen Uang Palsu, Sebagian Pelaku Belanjakan di Warung dan Pasar

Kekayaan budaya Indonesia, kata dia, juga dapat menjadi bagian penting dari pengembangan tersebut. Permainan tradisional, tari, dongeng hingga cerita mengenai kekayaan alam dan kehidupan masyarakat dapat dikembangkan menjadi atraksi yang memiliki nilai bagi wisatawan.

Di tengah perkembangan teknologi, Ferdiansyah juga menilai pendidikan pariwisata harus tetap mempertahankan unsur manusia. Teknologi dapat mengubah jenis pekerjaan, tetapi tidak serta-merta menggantikan rasa, kreativitas, pemikiran dan karya budaya manusia.

Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun karakter pelayanan yang memiliki kekhasan Indonesia. “Pendidikan yang dilakukan Poltekpar adalah pendidikan perguruan tinggi di bidang kepariwisataan rasa Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: Satreskrim Polresta Bandung Tangkap Produsen Uang Palsu, Sebagian Pelaku Belanjakan di Warung dan Pasar

Pandangan mengenai pentingnya karakter juga disampaikan Guru Besar Poltekpar Bali, Prof. Irene Hanna H. Sihombing. Menurut dia, pendidikan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kompetensi teknis, tetapi juga pembentukan integritas, etika, tanggung jawab dan kemampuan berkomunikasi, Jumat (18/09/2026)

Ia mencontohkan hal sederhana dalam komunikasi akademik, seperti cara mahasiswa menghubungi dosen melalui surat elektronik. Menurut Irene, kemampuan berkomunikasi merupakan bagian penting dari pembentukan profesionalisme karena industri pariwisata pada dasarnya dibangun melalui interaksi antarmanusia.

Selain karakter dan komunikasi, kreativitas menjadi kemampuan yang tidak kalah penting. Mahasiswa perlu mampu menciptakan pengalaman dan inovasi baru agar destinasi tidak berhenti pada produk wisata yang sama dari waktu ke waktu.

Baca juga: PKKMB Teknik Fisika Universitas Telkom Ingatkan Pentingnya Iptek Beriringan dengan Kepedulian Terhadap Lingkungan

Tantangan tersebut semakin besar karena sektor pariwisata sedang menghadapi transformasi teknologi, mulai dari digital tourism, artificial intelligence, big data hingga smart hospitality. Pada saat yang sama, industri juga menghadapi perubahan terkait keberlanjutan dan dinamika global.

“Pendidikan tinggi pariwisata harus mampu bergerak cepat mengikuti kebutuhan sektor yang dilayani,” ujar Irene.

Perubahan itu membuat pembelajaran di perguruan tinggi pariwisata perlu memiliki keterhubungan yang kuat dengan dunia industri. Irene menyebut pengalaman praktik, pembelajaran berbasis pekerjaan serta keberadaan fasilitas praktik yang mengikuti standar industri menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

Baca juga: Pariwisata Indonesia Tumbuh, Menteri Pariwisata Ingatkan Tantangan SDM di Era AI

Model tersebut membuat mahasiswa tidak hanya belajar konsep di ruang kelas, tetapi juga berhadapan dengan situasi kerja yang sesungguhnya. Dengan demikian, lulusan diharapkan memiliki kemampuan teknis, karakter dan kemampuan beradaptasi yang dibutuhkan ketika memasuki industri.

Pada akhirnya, tantangan pendidikan pariwisata bukan sekadar menghasilkan lulusan dalam jumlah tertentu. Persoalannya adalah bagaimana pendidikan mampu membentuk talenta yang memahami industri, mengenali potensi daerah, mampu berkomunikasi, kreatif menghadapi perubahan teknologi, serta terus belajar setelah meninggalkan bangku kuliah.

Sektor pariwisata yang terus bergerak membutuhkan manusia yang tidak hanya siap mengikuti perubahan, tetapi juga mampu menciptakan pengalaman dan peluang baru dari perubahan tersebut.***(Djarotmk)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *