Memahami Stunting Kognitif dan Manfaat Pangan Lokal Dukung Perkembangan Otak

Nasional48 Dilihat

Kota Bandung – Persoalan stunting masih menjadi PR (Pekerjaan Rumah) bagi sebagian daerah di Indonesia. Tingginya pengaruh stunting terhadap tumbh kembanga anak selalu mendapat atensi dan kerap jadi bahan diskusi dalam berbagai forum.

Seperti dalam sebuah siniar (podcast) “Kepikiran” yang digelar PoV Media beberapa waktu lalu, sejumlah ahli yang menjadi narasumber membedah “Dampak Gizi pada Generasi Muda”.

Dalam siniar tersebut, narasumber Praktisi Kesehatan sekaligus Pengamat Biomedis Dr. dr. Tauid Nur Azhar,M.Kes, M.Si.Med berdiskusi bersama Akademisi Unpad Dwi Indra Purnomo dan ahli gizi RSUD Bedas Tegalluar, Selvi.

Diskusi sangat menarik karena di salamnya tak sekedar membahas soal tinggi badan yang selama ini identik sebagai gejala stunting, tetapi juga soal bagaimana stunting berdampak pada otak.

Tauhid menjelaskan, kondisi otak sebagai dampak dari stuntng kognitif adalah sebuah keadaan dimana pemkembangan otak terganggu. Hal tersebut berdampak permanen pada kecerdasan, memori, hingga kesehatan mental di masa mendatang.

Pembahasan dimulai dari soal seorang manusia di periode 1.000 hari pertama yang disbut juga sebagai masa krusial, yakni sejak masa kehamilan hingga seorang bayi berusia dua tahun.

Pada periode tersebut kata Tauhid, jaringan otak terbentuk dengan sangat cepat. Periode ini menjadi sangat penting dan krusial karena terjadi pada manusia hanya satu kali dalam hidup dan tak akan berulang.

Menurut Tauhid, beberapa nutrisi diperlukan dalam proses perkembangan otak, di antaranya DHA dan AA (asam lemak omega), Folat, Kolin, Protein, mineral (zat besi dan seng).

Jenis nutrisi tersebtu perlu diperhatikan, karena jika tidak maka akan berdampak pada menurunnya volume hipokampus (pusat memori di otak), serta gangguan kecerdasan dan kemampuan dalam belajar.

Risiko lain yang ditimbulkan dari kurangnya kandungan gizi tersebut di antaranya ADHD, autisme, hingga gangguan neuropsikiatri lainnya.

Namun terdapat satu catatan penting dari Tauhid, yaitu bahwa kebutuhan nutrisi setiap orang berbeda-beda.

“Pesan pentingnya, tidak semua orang mengolah nutrisi dengan cara yang sama. Variasi gen tertentu, misalnya FADS1, FADS2, dan MTHFR dapat menyebabkan seseorang sulit mengubah omega-3 nabati menjadi DHA,” jelas Tauhid.

Untuk itu, lanjut Tauhid, faktor genetik juga menjadi pertimbangan pemenuhan nutrisi bagi setiap orang. Karena genetik memengaruhi pemanfaatan zat gizi.

Diskusi semakin menarik ketika Tauhid menyinggung manfaat sejumlah pangan lokal bagi kesehatan otak. Selain jumlahnay yang banyak, bahan pangan lokal juga mudah ditemukan.

Pegagan jadi yang pertama disebut dalam diskusi tersebut. Tanaman ini diyakini mengandung senyawa yang mampu mendukung fungsi saraf dan daya ingat manusia.

Berikutnya ada ikan gabus yang memilikikandungan protein tinggi,abumm, dan asam amino. Seluruh senyawa tersebut sangat penting bagi pertumbuhan tubuh.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, dan asam folat alami, daun kelor bisa menjadi pilihanpangan lokal yang mudah didapatkan.

Menurut dr. Tauhid, kombinasi antara ilmu nutrigenomik dan kearifan pangan lokal dapat menjadi solusi masa depan. Langkah tersebut berpotensi memperkuat perkembangan otak anak sejak usia dini.

Ia berharap diskusi akademik semacam ini dapat memperkaya perspektif masyarakat. Selain itu, hasil kajian tersebut dapat menjadi masukan bagi perancang program gizi nasional.***(Heryana)

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *