Pergoki Tumpukan Sampah Ganggu Kenyamanan, Wali Kota Cimahi Minta Jadwal Angkut Diseragamkan

Bandung Raya436 Dilihat

Kota Cimahi – Tumpukan sampah di jalan Rancabentang, Kecamatan Cimahi Selatan, menyita perhatian Wali Kota Cimahi Ngatiyana, Senin (25/5/2026).

Saat meninjau lokasi, Ngatiyana meminta agar tumpukan sampah tersebut segera diangkut. Selain menimbulkan bau tak sedap, sampah tersebut dinilai mengganggu kelancaran lalu lintas.

“Ini harus diangkut. Saya harapkan kita semua menyadari bahwa sampah Cimahi ini sehari 250 ton yang harus dibuang,” kata Ngatiyana di lokasi.

Baca juga: Dragon Ball, Sapi Limousin Titipan Kurban Presiden Prabowo Diserahkan Ngatiyana pada Warga

Dijelaskan Ngatiyana, di sekitar lokasi memang tidak terdapat TPS, namun dirinya memita agar pengangkutan dilakukan oleh petugas secara rutin setiap pekan.

Ia mengaku mendapat informasi bahwa tumpukan sampah tersebut terjadi akibat salah informasi. Warga menduga mobil pengangkut akan datang hari Minggu, namun nyatanya tak datang.

“Kalau hari Minggu diambil, masyarakat menyimpan di sini. Ternyata mobilnya tidak datang, sehingga terpaksa satu hari menginap di pinggir jalan,” ungkapnya.

Baca juga: Seluruh Jemaah Tiba di Tanah Suci, Siap Sambut Puncak Ibadah Haji

Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota juga mengimbau warga untuk mau memilah sampah sejak dari rumah masing-masing, untuk memudahkan pengangkutan.

Selain di kawasan tersebut, ia juga menyebut terdapat tumpukan sampah di jalan Pesantren, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara.

Diirnya memastikan seluruh sampah di semua titik akan diangkut dengan jadwal yang sama, agar tidak mengganggu kenyamanan warga dan pengguna jalan.

Baca juga: Dari Lansia Dievakuasi Hingga Anak Terpisah Warnai Padatnya Konvoi Persib Juara

Soal kapasitas TPA Sarimukti yang seakin terbatas daya tampungnya juga disinggung Ngatiyana. Kuota pengiriman sampah untuk Ciamhi hanya 14 truk atau 60 ton per hari.

Sedangkan produksi harian sampah di Kota dengan tiga kecamatan itu mencapai 250 ton. Dengan demikian, sekira 190 ton harus bisa dikelola secara mandiri.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *