Dua Pekan Dikirab, Mahkota Binokasih Kembali ke Keraton Sumedang Larang

Jawa Barat137 Dilihat

Kabupaten Sumedang – Kirab budaya dalam Milangkala Tatar Sunda ditutup dengan acara “Peuting Munggaran”. Mahkota Binokasih yang sempat dikirab di 9 daerah, kini kembali ke tempat penyimpanan asal di Keraton Sumedang Larang.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, turut mengantarkan kembalinya Mahkota Binokasih sebagai pusaka lambang kejayaan Kerajaan Pajajaran dan menyerahkannya kepada pihak Keraton Sumedang Larang, Senin (18/5/2026).

Dalam Milangkala Tatar Sunda, Mahkota Kerajaan Sunda peninggalan abad ke-14 itu sempat diarak di sembilan kabupaten/kota di Jawa Barat dalam tajuk Napak Tilas Padjadjaran. Sebuah acara yang menurut Dedi Mulyadi berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat.

Baca juga: Lepas Ratusan Calon Jemaah Haji Kloter Terakhir, Bupati Bandung Bagikan Uang Kadeudeuh

“Coba lihat hotel-hotel penuh, orang yang berkunjung ke Jawa Barat makin meningkat, dan beberapa daerah mulai nampak bersih,” ujar KDM (sapaan Dedi Mulyadi).

Dampak positif lain dari penyelenggaraan acara tersebut diungkapkan KDM, di antaranya penataan sejumlah wilayah yang kini menjadi lebih rapi, bersih, dan menarik. Contoh yang ia lakukan terhadap keraton di Cirebon.

Selama ini, keraton-keraton di sana cenderung tertutup oleh sejumlah bangunan baru. Sehingga lingkungan keraton seakan terhalang. Selain itu, bangunan baru di sekitarnya dinilai KDM tak selaras dengan keraton.

Baca juga: Polresta Bandung Tetapkan PT TDP Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Kejahatan Lingkungan

“Ke depan, seluruh bangunan yang ada di sekitar keraton itu harus selaras, baru akan melahirkan gelombang publik untuk datang berkunjung,” katanya.

Di antara pesan yang disampaikan, KDM mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk memprioritaskan upaya penataan kawasan, dibanding terburu-buru menggenjot tingkat kunjungan wisatawan.

Menurutnya, dengan penataan wilayah yang baik, secara otomatis dapat menjadi magnet kuat yang mampu menarik minat wisatawan untuk datang dan berwisata.

“Satu saja, kita urus lembur kita, kota ditata. Sudah saja itu dulu, nanti setelah itu nanti ada hikmah,” pungkas KDM.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *