SMA Semi Militer Kian Digandrungi Karena Keunggulannya, Ini yang Harus Disiapkan Calon Siswa

Nasional72 Dilihat

Kabupaten Bekasi – Pada Jumat (30/10/2026), Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan SMA Taruna Mandiri Kampus Cimahi. Salah satu sekolah semi militer unggulan yang dibangun pemerintah untuk menciptakan generasi pemimpin terbaik masa depan.

SMA Taruna Nusantara merupakan salah satu dari sekolah semi militer yang ada di Indonesia. Di Provinsi Jawa Barat, juga terdapat sekolah semi militer selain Taruna Nusantara, misalnya SMA Krida Nusantara di Bandung, atau SMA Astha Hannas di Subang.

Belakangan, SMA semi militer kian digandrungi banyak anak-anak hingga para orang tuanya untuk mendapatkan akses agar bisa bergabung di sekolah dengan kurikulum yang sangat berbeda dengan sekolah pada umumnya.

Baca juga: Diresmikan Presiden, SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi Jadi Kawah Candradimuka Lahirkan Generasi Terbaik Bangsa

Apa sebenarnya yang menjadi keistimewaan dari sekolah semi militer itu? Sehingga seakan menjadi mimpi bagi para siswa dan orang tua agar bisa menyekolahkan anaknya di sana. Benarkah menjadi jalan masuki jenjang pendidikan Akademi Militer, Akademi Kepolisisan, dan pendidikan unggulan lainnya?

Warta Pajajaran sempat berbincang bersama seorang Praktisi Pendidikan Muh. Dhamar Tyasadi, S.T. dalam program “Warta Inspirasi” di Bekasi beberapa waktu lalu.

Dhamar menyampaikan pandangannya terkait sekolah semi militer yang menjadi topik perbincangan saat itu. Menurutnya, perbedaan yang dimiliki sekolah tersebut membuat SMA Taruna Nusantara dan sejenisnya menjadi istimewa.

“Sebetulnya sekolah semi militer itu istilah yang digunakan untuk menggambarkan sekolah menengah atas(SMA) yang memiliki pembinaan karakter, kedisplinan, tata tertib yang ketat, kepemimpinan, latihan fisik juga digenjot, selain kehidupan berasrama yang memiliki pola terstruktur,” tuturnya.

Baca juga: Dua Rumah di Padalarang Alami Kerusakan Akibat Hujan dan Angin Kencang, Warga Diimbau Waspada Pancaroba

Namun kepada msyarakat, Dhamar mengingatkan bahwa tidak semua sekolah berasrama merupakan sekolah semi militer. Juga tidak semua sekolah taruna memiliki kurikulum yang sama, sisi pendidikan yang sama, serta persyaratan masuk yang sama pula.

Untuk itu, menurutnya penting bagi orang tua dan calon siswa memiliki lebih banyak informasi terkait sekolah semi militer sejak dini, sebelum melangkah lebih jauh dan melakkan upaya untuk bisa bergabung di dalamnya, karena hal itu bukan perkara mudah.

Namun yang tak kalah menarik dari sekolah unggulan yang digagas pemerintah ini menurut Dhamar, adalah soal pendidikan karakter yag diterapkan kepada para siswa di dalamnya, yakni “Survival Instinct”.

“Jadi, pendidikan berkarakternya itu yang paling penting adalah survival instinct. Yaitu bagaimana dia (siswa) punya insting menyelesaikan masalah oleh dia sendiri tanpa ada orang tua, itu survive sediri,” jelasnya.

Baca juga: Satnarkoba Polresta Bandung Sita 12 Kilogram Ganja Siap Edar Asal Medan

Dalam berbagai kondisi, setiap siswa dituntut untuk bisa mandiri. Ia mencontohkan ketika seorang siswa sedag sakit, maka lingkungan pendidikan memaksa mereka untuk bisa bertahan hingga sehat kembali tanpa bantuan orang tua.

Dhamar termasuk salah seorang yang setuju dengan keberadaan sekolah semi militer yang menurutnya mampu membangun generasi yang meiliki karakter kuat, serta mampu menyelesaikan setiap persoalan secara mandiri, disamping kemampuan akademik tinggi yang didapatkan di dalamnya.

Dengan demikian banyak perbedaan dari sekolah pada umumnya, muncul pertanyaan “mengapa sekolah semi militer kini sangat digandrungi oleh siswa hingga orang tua mereka?”

Dhamar membuka beberapa alasan yang mendasari jawaban dari pertanyaan tersebut. Pertama, ia menyinggung soal kehidupan berasrama yang disukai orang tua sebagai solusi di tengah kekhawatiran pergaulan.

Baca juga: Pendidikan Pariwisata Dituntut Cetak Talenta, Bukan Sekadar Pekerja

“Nah, semua orang tua ingin menghindari cuma satu, yaitu lingkungan. Mereka takut anaknya jadi begajulan, ah sudah deh mendingan saya asramain nih anak, pilihan yang mau gak mau kan saya tidak bisa mendidik anak,” imbuhnya.

Sekolah semi militer juga disebutnya sebagai wahana menempuh pendidikanyang tak sekadaar memperoleh ilmu, tetapi juga mendapatkan link (jejaring). Di kehidupan masa kini dan ke depan, link menjadi sangat penting.

Di setiap sekolah apapun pasti akan menapatkan jejaring, namun menurut Dhamar jejaring yang didapatkan di sekolah semi militer jauh lebih luas dibandung egan yang didapatkan di sekolah biasa.

Baca juga: PKKMB Teknik Fisika Universitas Telkom Ingatkan Pentingnya Iptek Beriringan dengan Kepedulian Terhadap Lingkungan

“Mohon maaf saya tidak mengecilkan SMA Negeri. Contoh SMA negeri di Bekasi deh dengan sistem zonasi, ya temannya segitu saja. Sedangan kita butuh pergaulan, butuh link untuk ke depan,” jelasnya.

Dengan berbagai kelebihan yang ada, menyebabkan peluang untuk bisa masuk dan bergabung di sekolah semi militer menjadi sangat ketat. Dalam tiga tahun terakhir kata Dhamar, jumlah pendaftar setiap tahun mencapai 24.000 orang, padahal kuota hanya sekira 50 persennya.

Lalu, apa yang harus disiapkan siswa ketika memiliki keinginan masuk ke sekolah semi militer?

Memasuki sekolah berasrama yang menuntut survival instinct tentu menjadi sebuah tantangan berat bagi sebagian anak. Namun hal tersebut memang harus dimiliki setiap calon siswa setelah ada kemauan.

Baca juga: Berulang Kali Longsor Ancam Keselamatan Penghuni Kompleks Buana Flamingo, Begini Tanggapan DPRD Cimahi

“Kalau misalkan si anak mau, itu pun gak cukup, karena mau gak kamu sengsara? istilahnya prihatin,” kata Dhamar.

Praktisi pendidikan itu mengatakan, jika anak sudah siap dengan kehidupan yang menuntut survival instinct, maka akan menjadi jalan mulus mengikut pendidikan di sekolah semi militer. Seperti siswanya bernama Panji yang bisa masuk Akmil tanpa harus menempuh pendidikan di kelas XI.

Berikutnya tinggal mempersiapkan kemampuan akademik yang tak biasa untuk bisa lolos seleksi masuk ke sekolah tersebut. Calon siswa akan mengikuti uji akademik dengan standar kelulusan yang ditentukan secara nasional.

Dhamar menyebut, setidaknya ada empat mata pelajaran yang diujikan, yakni matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Lebih besar nilai uji, maka akan lebih bsar peluang diterima.

Salah satu hal unik dari sekolah semi militer menurut Dhamar, adalah penempatan siswa yang dilakukan tak sesuai pilihan dan keinginan siswa dan orang tuanya. Seluruh prosesnya dilakukan secara nasional.

Baca juga: Waspada Berkendara Malam Hari! Polisi Tangkap Pelaku Kekerasan Jalanan di Soreang

“Perlu diingat SMA Taruna Nusantara Terintegrasi Cimahi misalnya, kita tidak sekonyong-konyong mau daftar di SMA ituaaaaa, karena itu penepatan. Jadi, pendatarannya seluruh Indonesia di website SMA TN diakunnya masing-masing, seluruh Indonesia disitu,” katanya.

Ia menambahkan, penempatan dilakukan setelah seluruh siswa yang diterima terlebih dahulu mengikuti Pendidikan Dasar Kepemimpinan (PDK) selama tiga bulan di Magelang, Jawa Tengah.

“Setelah penutupan PDK, baru ada penempatan, bukan kita yang memilih. Dengan sekolah seperti itu maka konsep berpikir semua siswa adalah nasional, makanya ada wawasan kebangsaan,” tutupnya.***(Heryana)

Perbincangan Warta Pajajaran bersama Praktisi Pendidikan Much. Dhamar Tyasadi, S.T. bisa disaksika lengkap di instagram @warta_pajajaran, atau klik link berikut ini: https://www.instagram.com/p/DfKKLBjyxvA/

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *