Milangkala Tatar Sunda, Upaya Pertahankan Budaya Hingga Lahirkan Budaya Baru

Jawa Barat228 Dilihat

Kota Bandung – Milangkala Tatar Sunda yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat secara bergilir melintasi beberapa kabupaten/kota dinilai memberi banyak manfaat.

Bahkan upaya pengembalian kejayaan Tatar Sunda berupa kekayaan budayanya itu, dinilai melahirkan budaya baru, terutama bagi wilayah yang dilintasi kirab Mahkota Binokasih sebagai bagian penting dari Milangkala Tatar Sunda.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala BKD Provisi Jawa Barat Dedi Supandi kepada media sebelum gelaran Kirab Mahkota Binokasih, Sabtu (16/5/2026).

Baca juga: Di Hadapan Presiden, Pangdam III Siliwangi Nyatakan Komitmen Dukung Koperasi Merah Putih

Perubahan budaya yang dimaksud Dedi Supendi merupakan budaya positif yang berdampak pada lingkungan dan karakter masyarkat.

“Saat kita kirab juga jadi ada perubahan budaya. Bebersihnya, sampahnya diberesan, pengecatan ulang trotoar, dan sebagainya,” ujarnya.

Dedi Supandi yang juga merupakan Ketua Panitia Milangkala Tatar Sunda itu mengungkapkan, setiap titik yang dilintasi kirab budaya mendapat perhatian untuk dilakukan pembenahan dan penataan.

Baca juga: Puncak Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda Tampilkan Seni Budaya Nusantara

Contoh sederhana disampaikan Dedi, ketika terdapat wilayah perlintasan kirab, maka akan diperhatikan tingkat kebersihan dan ketertiban umumnya sebelum kirab dimulai.

“Setiap titik kita lakukan beberapa perubahan. Dari jalur yang dilintasi itu, ada pelanggaran PKL yang belum bersih, spanduk yang tak sesuai aturan, trotoar yang sudah pudar kita cat lagi,” jelasnya.

Kegiatan persiapan menjelang kirab tersebut, menurutnya menjadi trigger bagi kepala daerah untuk mengagendakan revitalisasi.

Baca juga: Puluhan Ribu Warga Jawa Barat Banjiri Kota Bandung Saksikan Puncak Milangkala Tatar Sunda

“Akhirnya Pak Gubernur sudah menyampaikan, tahun depan kita mulai revitalisasi,” ungkap Dedi.

Ia berharap perayaan Milangkala Tatar Sunda dapat melahirkan rasa bangga masyarakat terhadap jati diri Sunda yang kaya akan budaya.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *