Ini Alasan Pemerintah Gandeng Jepang Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Legok Nangka

Jawa Barat51 Dilihat

Kota Bandung – Pemerintah memastikan pengolahan sampah di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka akan menggandeng pemerintah Jepang dan teknologi pengolah dari negeri Sakura.

Selain minat Jepang yang tinggi terhadap proyek pengolahan sampah di Legok Nangka, pengalaman dan teknologi yang digunakan negara itu disebut sudah sangat meyakinkan.

Disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat Ai Saadiyah Dwidaningsih, Jepang sangat tertarik terhadap proyek PLTSa Legok Nangka hingga dituangkan dalam sebuah perjanjian kerjasama (PKS).

Baca juga: Launching PPM, Wali Kota Cimahi: Dorong Pembangunan Kewilayahan Lewat Pemberdayaan Masyarakat

“Kami beberapa kali menerima kunjungan dari pemerintah Jepang, termasuk calon investornya untuk memenuhi pembiayaan Legok Nangka. Ini menunjukan bahwa pemerintah Jepang masih komitmen menyelesaikan permasalahan sampah ini,” kata Ai, Senin (8/6/2026).

Sementara itu, hal lain yang juga membuat Jepang tertarik adalah karena kerja sama tersebut dipayungi kerja sama antar pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Jepang atau G to G (government to gevernment).

Dalam pelaksanaannya di TPPAS Legok Nangka nanti, sampah yang berasal dari wilayah Bandung Raya akan diolah menjadi energi listrik (waste to energy).

Baca juga: Butuhkan Anggaran 100 Miliar, RSUD Cimenyan Mulai Dibangun Bertahap

Kita tahu teknologi Jepag itu kualitasnya seperti apa, walaupun prosesnya sangat luar biasa,” ujar Ai.

Pebangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dengan teknologi Jepang itu, lanjut Ai, mampu mengolah 1.800-2-131 ton sampah per hari untuk diubah menjadi energi listrik.

Namun, ia menjelaskan bahwa sampah yang akan diolah melalui PLTSa merupakan jenis sampah dengan kualitas tetentu. Sehingga pemilahan jenis sampah organik dan anorganik masih harus dilakukan untuk mendapatkan efektivitas tinggi.

Baca juga: Kurangi Produksi Sampah, Bupati Bandung Instruksikan ASN Bawa Tumbler

“Jika tidak dilakukan pemilahan, maka akan menurunkan efektivitas dari pembangkit listrik tersebut. Mari kita untuk membiasakan melakukan pemilahan sampah minimal antara organik dan anorganiknya,” ajaknya.

Lebih lanjut ia menjelaskan,sampah yang dapat diolah dengan baik oleh pembangkit listrik nanti adalah sampah dengan kondisi tidak terlalu basah, atau terlalu banyak campuran sampah organik di dalamnya.

Selain mengajak masyarakat untuk tetap memilah, pemerintah menurut Ai juga akan melakukan upaya lain, yakni menyediakan sejumlah tempat untuk memilah dan mengolah sampah sehingga menjadi sampah dengan kualitas yang siap diolah pembangkit listrik.

Baca juga: Masa PCMB Diperpanjang, Murid Tak Mendapat Sekolah Bisa Ikut SPMB Pada Tanggal Berikut

“Kami juga nanti akan merencanakan membangun semacam hub kecil di beberapa titik untuk melakukan pre-treatment sebelum masuk instalasi pengolahan, ini untuk memudahkan akses pemerintah kabupaten/kota bisa menuju ke instalasi pengolahan,” ujarnya.

Dengan kapasitas pengolahan di TPPAS Legok nangka antara 1.800-2.131 ton per hari, Kepala DLH Jabar menyebut masih belum menyelesaikan seluruh timbulan sampah Bandung Raya yang mencapai 6.000-7.000 per hari.

“Bayangkan, dari pengoperasian di Legok Nangka yang 2.300 pun masih banyak sampah yang belum terolah. Jadi, tetap kita harus melakukan upaya lain, termasuk pengurangan dan pemilahan,” tandasnya.

Baca juga: Jadi Residivis sejak Remaja, Pengedar Sinte Ditangkap Polisi Bersama Puluhan Tersangka Narkoba

Merujuk pada penandatanganan PKS yang dilakukan Gubernur Jawa barat Dedi Mulyadi da PT JES (Jabar Environmental Solutions)  sebagai konsorsium pelaksana PLTSa Legok Nangka, Ai memastikan pembangunan bisa dimulai tahun ini.

Hanya saja, pembangunan konstruksi memerlukan waktu normalnya hingga 40 bulan. Untuk itu pihaknya akan terus mendorong agar pembangunan bisa dipercepat, dengan targat di akhir 2029 sudah mulai beroperasi.

“Jadi, sebenarnya semangat untuk memilah sampah ini tetap harus kita lakukan di hulu atau masyarakat. Jadi, kita punya waktu 2-3 taun lagi untuk membiasakan diri melakukan pemisahan sampah,” sambungnya.

Baca juga: Bukan Lagi Wacana, PLTSa Legok Nangka Segera Dibangun Tahun Ini

Pemilahan menurutnya tetap penting dilakukan, karena karakteristik sampah dari Bandung Raya umumnya didominasi sampah organik. Sedangkan pembangkit listrik lebih efektif mengolah sampah dengan sedikit kandungan jenis tersebut.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *