“Peuting Munggaran” Beri Jawaban Makna Istilah Milangkala Tatar Sunda

Jawa Barat201 Dilihat

Kota Bandung – Puncak rangkaian Milangkala Tatar Sunda yang digelar di Kota Bandung, akan berlangsung di halaman Gedung Sate, Minggu (17/6/2026).

Acara bertajuk “Peuting Munggaran” itu akan menampilkan sejumlah hiburan dan kesenian tradisional Sunda, serta beberapa mata acara penting lainnya

Dijelaskan Ketua Panitia Milangkala Tatar Sunda, Dedi Supandi, acara tersebut akan menjadi jawaban atas pertanyaan seputar istilah “milangkala” yang digunakan dalam dua pekan terakhir.

Baca juga: Gubernur Jabar Tegaskan Sekolah Maung Tak Gantikan Nama Sekolah Asal

Milangkala Tatar Sunda menurut Dedi bermula dari peristiwa sejarah lahirnya Kerajaan Sunda pada 18 Mei 669 Masehi, setelah sebelumnya bernama kerajaan Tarumanegara.

Jika melihat kata “Peuting Munggaran”, merupakan kata dari bahasa Sunda yang berarti mala pertama. Merujuk pada penjelasan Dedi Supandi bahwa dalam acara tersebut bertepatan dengan malam pertama kelahiran kerajaan Sunda.

“Jam 00.00 WIB (17 Mei 2026), para tokoh naik panggung dan kita menyampaikan bahawa peuting munggaran itu terjadi pada tanggal 18 jam 00.00 itu,”jelasnya.

Baca juga: Milangkala Tatar Sunda, Upaya Pertahankan Budaya Hingga Lahirkan Budaya Baru

Dipastikan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jabar itu, pada Minggu malam tak ada lagi kirab atau arak-arakan seperti malam sebelumnya .

Beberapa acara yang akan dihadirkan berupa tarian kebudayaan dan penyerahan apresiasi bagi sponsor dan pendukung acara Milagkala Tatar Sunda.

“Dan setelah sambutan Pak Gubernur juga ada penyerahan buku sejarah hari jadi Tatar Sunda dari Prof Nina Herlina. Dan penyerahan ensiklopedia Sunda dari Bapak Prof Bagus Mulyadi,” ungkapnya.

Baca juga: Di Hadapan Presiden, Pangdam III Siliwangi Nyatakan Komitmen Dukung Koperasi Merah Putih

Ia menambahkan, menjelang Peuting Munggaran akan digelar pertunjukan kolosal yang didukung budayawan seperti Sudjiwo Tedjo, Trie Utami, Dicky Chandra, serta sejumlah pesohor lainnya.

“Melalui perhelatan kirab budaya dalam rangka Milangkala Tatar Sunda, diharapkan mampu membangkitkan kembali nilai luhur Kasundaan di tengah masyarakat,” tutup Dedi.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *