Kota Bandung – Upaya pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyelesaika persoalan sampah terus dilakukan. Informasi terbaru, Pemkot tengah mempersiapkan pengolahan sampah dengan kapasitas 300 ton per hari.
Rencana tersebut semakin menguat dengan ditandatanganinya komitmen kerja sama antara Pemkot Bandung, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), serta PT Danantara Development Management Fund.
Proyek yang akan dikerjakan adalah upgrading, berupa peningkatan kapasitas dan pengembangan Tempat Pengolaan Sampah Organik dan Sirkular (TPOS) Gedebage, Kota Bandung.
“Dalam hal ini kami akan membangun satu fasilitas pengolahan sampah dengan menggunakan sebuah teknologi yang baru,” ungkap Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Jumat (21/8/2026).
Para pihak, lanjut Farhan, telah melakukan survei TPOS Gedebage sebelum akhirnya lokasi tersebut dinyatakan layak hingga disepakati dan ditandatangani komitmen kerja sama pembangunannya.
Upgrading TPOS Gedebage menurutnya penting untuk dilakukan, mengingat Kota Bandung hingga kini masih bergantung pada fasilitas pengolahan sampah yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Baca juga: Tanpa Sertifikat, Jago Masak Saja Tak Cukup untuk Bersaing di Dapur Profesional
“Terus terang Kota Bandung itu satu-satunya ibu kota provinsi yang tidak punya TPA. Jadi kami sangat tergantung kepada TPA-TPA yang dibangun oleh provinsi, baik yang di Sarimukti maupun yang sekarang sedang dibangun di Legok Nangka,” sambung Farhan.
Yang menjadi persoalan kini adalah bahwa TPA regional milik Pemprov seperti TPPAS Legok Nangka masih baru dimulai pembangunannya. Sedangkan TPA Sarimukti sudah dinyatakan over capacity.
Untuk itu, Wali Kota berharap pembangunan TPOS Gedebage menjadi jawaban atas upaya pengurangan ketergantungan Kota Bandung terhadap keberadaan TPA.
Baca juga: Lelang Beasiswa Jadi Alasan Ketua Ikatan Alumni PGAN Bandung Harap Reuni Digelar Tiap Tahun
Secara teknis, teknologi yang disiapkan di TPOS Gedebage mengusung konsep pengelolaan sampah desentralisasi. Yakni tidak semua sampah dikirim ke TPA, melainkan selesai sejak di wilayah masing-masing.
Penjelasan tersebut disampaikan Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara, Sigit Puji Santosa, yang menyebut sampah akan diproses menjadi Solid Recovered Fuel (SRF).
Produk pemanfaatan sampah tersebut nantinya akan bernilai ekonomis dan bermanfaat untuk dijadikan bahan bakar yang digunakan di industri untuk refinery dan boiler.
Baca juga: Reuni Akbar Sukses Himpun Alumni PGAN Puluhan Angkatan dan Antar Provinsi Kumpul di Bandung
“Ini adalah solusi yang kita sebut desentralisasi. Artinya tidak perlu dibawa ke TPA, tempat penimbunan akhir, tapi kita selesaikan di regional masing-masing,” kata Sigit.
Terkait biaya, Sigit mengatakan jika pembangunan TPOS Gedebage yang akan menjadi pilot project masih dalam penghitungan. Namun jika melihat pada proses bencharkin, angka yang dibutuhkan diperkirakan mencapai antara Rp50 miliar hingga Rp60 miliar.
Dari sisi perguruan tinggi, Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengatakan bahwa teknologi akan digunakan merupakan bentuk dukungan perguruan tinggi terhadap penyelesaian persoalan sampah.
Baca juga: Pemkab Bandung Segera Perbaiki Jalur Perbatasan dengan KBB, Bupati: Gunakan APBD Perubahan
“Kalau ini berhasil, kita berharap setiap SWK (Sub Wilayah Kota) juga bisa dilakukan pembangunannya sehingga penyelesaian sampah di Kota Bandung ini bisa diselesaikan dan akan menjadi percontohan untuk daerah-daerah lain,” ujarnya.***(Heryana)



























