Kabupaten Bekasi – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan sambutan dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Bekasi ke-76, Sabtu (15/8/2026).
Salah satu poin menarik dari sambutannya tersebut, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM menyampaikan bahwa menjadi seorang pemimpin harus mempunyai nyali (keberanian).
Terlebih memimpin Kabupaten Bekasi dengan kepalan tangan masyarakatnya yang kuat serta suaranya keras. Seeorang yang memimpin Bekasi tidak boleh memiliki rasa takut.
“Saya pesan kepada Pak Plt Bupati, punya nyali, jangan pernah takut kalau jadi pemimpin. Kalau masih punya rasa takut jangan jadi pemimpin,” tegas KDM.
Ia menambahkan, karakteristik masyarakat Kabupaten Bekasi yang kuat, menuntut pemimpin yang memiliki kepalan tangan kuat serta suara yang keras dan lantang.
“Kita ingin mengembalikan Bekasi pada jati dirinya. Kita tidak boleh juga membiarkan sungai kotor berpuluh-puluh tahun. Dan saya tahu di sini ada salah satu sungai yang kotor dan viral,” ujarnya.
Baca juga: Kesal Atas Perluasan Lahan Pabrik Cokelat, Warga Melong Ramai-ramai Jual Rumah
Dirinya mengaku mendengar penjelasan dari Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja, bahwa setiap kali dilakukan peninjauan lokasi, maka keesokan harinya kondisi akan kembali seperti semula.
“Sudah, nanti bersama gubernur kita pidanakan kalau itu melanggar undang-undang ligkungan hidup. Ini prinsip.
Ia berpesan juga agar Plt Bupati tak takut dengan apapun yang terjadi, selama langkah yang dilakukan itu benar, serta bermanfaat bagi masyarakat banyak, seperti yang selama ini ia lakukan.
Kendati demikian, KDM tetap mengingatkan para pejabat dan pimpinan akan pentingnya mengedepankan sikap humanisme dalam setiap kebijakan dan tindakan yang dilakukan.
Ia mencontohkan, setiap proses penataan kawasan selalu memberikan kompensasi kepada warga yang sebelumnya menempati lokasi penertiban. Hal itu dilakukan karena rasa kemanusiaan, meski warga yang menepati lahan bukan miliknya merupakan kesalahan
“Saya punya tradisi menggeser orang di sebuah areal sungai, selalu saya berikan kompensasi. Betul dia melanggar, saya paham, tapi selama dia digeser dia kehilangan tempat penghasilan, dia kehilangan rumah,” tandasnya.
Baca juga: Media Sosial Mudahkan Sebar Informasi, Wagub Jabar Dorong Wartawan Lakukan Konfirmasi
Menurutnya, kesalahan warga menempati lahan negara tak bisa membuat sisi kemanusiaan terlepas begitu saja. Ia tetap membantu warga untuk mencarikan rumah baru, hingga memberikan kompensasi untuk bekal hidupnya.
“Betul dia melanggar, tapi tidak semestinya juga kita ersikap dengan pendekatan kakuasaan karena menurut saya pemimpin itu punya rasa untuk menggerakkan ketuhanan menjadi kemanusiaan,” tegas KDM.***(Heryana)

























