Kota Bandung – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat terus memperkuat upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan sebagai bagian dari strategi membangun masyarakat yang semakin cakap dalam mengelola keuangan.
Langkah tersebut dinilai berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang tetap menunjukkan tren positif di tengah berbagai tantangan.
Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman, mengatakan edukasi keuangan tidak hanya menjadi bagian dari tugas regulator, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat.
Baca juga: Kerap Temukan Parkir Liar, Dishub Kota Cimahi Tak Henti Lakukan Edukasi dan Pembinaan
Karena itu, OJK terus memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah, media, dan berbagai pemangku kepentingan agar informasi mengenai layanan keuangan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Menurut Darwisman, sinergi menjadi faktor penting dalam mempercepat peningkatan literasi keuangan. Ia mengapresiasi keterlibatan insan media yang dinilai memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi yang objektif, edukatif, dan mudah dipahami masyarakat.
“Kolaborasi yang baik antara OJK, media, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi modal penting untuk meningkatkan literasi serta inklusi keuangan di Jawa Barat,” ujarnya, Jumat (31/07/2026).
Komitmen tersebut, lanjut dia, mendapat pengakuan di tingkat nasional. OJK Jawa Barat baru saja menerima apresiasi sebagai lembaga negara yang dinilai produktif dalam mengedukasi masyarakat mengenai literasi dan inklusi keuangan. Penghargaan itu menjadi cerminan dari konsistensi berbagai program edukasi yang dijalankan selama ini.
Darwisman mengungkapkan, dibandingkan kantor OJK di provinsi lain, Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan frekuensi kegiatan edukasi dan literasi keuangan yang paling tinggi.
Tidak hanya dari jumlah kegiatan, jangkauan program serta aktivitas komunikasi melalui media sosial juga terus mengalami peningkatan.
“Jawa Barat menjadi salah satu daerah dengan kegiatan edukasi keuangan yang paling aktif. Baik dari sisi frekuensi, jangkauan, maupun komunikasi digital kepada masyarakat,” katanya.
Selain memperkuat edukasi, OJK juga mendampingi berbagai program pemerintah daerah yang berorientasi pada penguatan ekosistem keuangan inklusif. Salah satunya melalui program *Saba Lembur* di Kabupaten Subang yang diarahkan untuk memperluas akses layanan keuangan di desa-desa.
Program tersebut menyasar puluhan desa dan kecamatan sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan, sekaligus memperluas akses pembiayaan yang aman dan legal.
Baca juga: Catat Tanggalnya! Pasar Kreatif Bandung 2026 Digelar di Delapan Mal
Darwisman menambahkan, meningkatnya literasi keuangan diharapkan mampu mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Indikator tersebut, menurut dia, tercermin dari meningkatnya konsumsi rumah tangga yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi harus diikuti dengan pemerataan kesejahteraan. Jawa Barat masih menghadapi tantangan berupa besarnya jumlah penduduk dan kebutuhan terhadap layanan publik yang semakin berkualitas.
“Potensi pasar dan tenaga kerja di Jawa Barat sangat besar. Namun, kondisi tersebut juga menuntut penguatan layanan publik agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat,” ujar Darwisman.
Baca juga: Polresta Bandung Berhasil Sita Satu Juta Obat Keras Serta Ungkap Ratusan Kasus Narkoba
Melalui penguatan literasi keuangan, perluasan akses terhadap layanan jasa keuangan, dan kolaborasi yang berkelanjutan dengan berbagai pihak, OJK Jawa Barat berharap masyarakat semakin mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak.
Pada akhirnya, langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan individu, tetapi juga memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.***(Jarotmk)































