Bandung Barat – Keberadaan relawan penjaga perlintasan kereta api terkadang luput dari perhatian kita, meski seringkali kita melewatinya. Padahal, mereka sangat berjasa dalam menjaga situasi perlintasan.
Tak hanya itu, kehadiran petugas yang tidak secara struktur sebagai pegawai PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) itu kadang dianggap sebagian orang seperti seorang pengangguran yang hanya memanfaatkan situasi.
Kisah Ujang Sumarna mungkin bisa membuat masyarakat menyadari bahwa keberadaan relawan di perlintasan kereta api, terutana yang tak berpalang pintu begitu berarti bagi keselamatan pengguna jalan.
Baca juga: Pemkot Bandung Persiapkan Operasional Bandara Husein Sastraegara, Segera Layani Boeing Hingga Airbus
Sejak 1989, Ujang Sumarna mulai mendedikasikan dirinya untuk menjaga perlintasan sebidang di JPL Sumur Bor, Cilame, Kabupaten Bandung Barat.
Kepada Warta Pajajaran, Ujang membagikan pengalaman hidupnya yang sudah puluhan tahun menatap hilir mudik kendaraan, mulai dari sepeda motor, mobil, hingga kereta api.
Selama puluhan tahun itu pula dirinya menjaga agar lalu lintas kereta api tetap lancar, sementara kendaraan lain non kereta api juga tetap melintas dengan aman dan selamat.
Baca juga: Pasal Berlapis Diterapkan Polda Jabar Terhadap Pelaku Aniaya Sadis Taufik Hidayat
Namun dalam melaksaakan tugas ikhlasnya tersebut, diakui Ujang tak sedikit pengguna jalan mengabaikan peringatannya, bahkan di antaranya justru mengajaknya berkelahi.
“Kadang ada yang melanggar, ada juga yang dikasih tahu dan disuruh setop malah rese, malah kadang ada yang ngajak berkelahi,” ungkapnya.
Namun sesuai niat dirinya membantu masyarakat dan mengamankan pengguna jalan, ia tak pernah mengubris hal seperti demikian. Ujang tetap melaksanakan tugas meski bukan kewajibannya secara profesional.
Baca juga: Kasus Penganiayaan Berat Taufik Hidayat, KDM Soroti Lemahnya Tata Kelola Pemerintahan Tingkat Bawah
“Kalau ditanya dukanya ya kehujanan dan kepanasan. Dan resikonya kalau yang lewat kadang ada yang melawan kalau saya tegur, padahal demi keselamatan mereka,” imbuhnya.
Soal materi, ia akui seringkali mendapatkannya dari kemurahan hati pengemudi. Meski banyak diantara pemotor maupun pengemudi mobil acuh melihatnya mengatur demi keselamatan mereka saat melintasi rel kereta api.
“Nah, kalau sukanya biasa we ada yang ngasih dari mobil atau motor. Kadang setahun sekali atau dua kali biasa dari PJL atau PT KAI,” kata Ujang.
Baca juga: Hotman Paris Buka Donasi Bagi Korban Penganiayaan Berat di Bandung, Ratusan Juta Berhasil Terkumpul
Ia menyebut penjagaan di JPL Sumur Bor Cilame berlangsung 24 jam. Dilakukan secara bergiliran bersama rekan-rekan lainnya dalam lima shift kerja.
Meski penjagaan sukarela itu dilakukan, tak berarti tak pernah ada insiden di lokasi. Beberapa kali kejadian menurutnya rata-rata diakibatkan kelalaian pengendara dan abai terhadap peringatan dirinya dan relawan lain.
“Kalau kejadian banyak, ada motor ketabrak, orang bunuh diri, korban naik grab mobil juga. Yang lewat sini cukup ramai masyarakat dari berbagai daerah, ada dari Bandung dari Jakarta, banyak lah pokoknya,” pungkas Ujang.
Baca juga: Sayembara KDM 250 Juta Ditutup, Siapa Penerima Hadiah Uangnya?
Dirinya berharap masyarakat selalu waspada dan memperhatikan arahan para petugas di lokasi. Soal menjaga keselamatan pengguna jalan, baginya menjadi hal utama dalam kerelaannya bertugas.***(BS)



























