Peringati Hardiknas, Wali Kota Cimahi Tegaskan Komitmen Selesaikan Persoalan Pendidikan

Bandung Raya709 Dilihat

Kota Cimahi – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi momentum strategis untuk memastikan setiap anak memperoleh pendidikan berkualitas sebagai haknya.

Pandnagan tersebut disampaikan Wali Kota Cimahi Ngatiyana saat memimpin Upacara Hardiknas di Lapangan Apel Komplek Pemkot Cimahi, Senin (4/5/2026).

Sejatinya pendidikan menurut Ngatiyana merupakan sebuah proses penting untuk memanusiakan manusia.

Baca juga: Bupati Bogor Minta KDM Buka Kembali Operasional Tambang Berizin

“Di mana proses dilaksanakan dengan asah, asih, dan asuh. Pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga pembentukan karakter, akhlak, kemandirian, dan kepribadian yang utuh,” kata Ngatiyana.

Pandangannya tersebut sesuai dengan kondisi di lapangan, dimana proses pendidikan masih menemukan berbagai persoalan.

Ngatiyana menyoroti masih adanya kesenjangan yang terjadi antara satuan pendidikan, keterbatasan sarana berbasis digital, perundungan , dan kekerasan disekolah.

Baca juga: Respon Video Amien Rais, Komdigi Ambil Langkah Hukum Begini

“Kita juga masih menghadapi tantangan dalam pemerataan akses pendidikan yang inklusif, peningkatan kompetensi guru,” ujarnya.

Tantangan lainnya adalah upaya keterlibatan orang tua dalam proses belajar anaknya yang memerlukan penguatan.

Menurutnya, seluruh persoalan dan tantangan tersebut memerlukan langkah dan solusi yang tepat karena akan menentukan masa depan Kota Cimahi.

Baca juga: 68 Ribu Jemaah Haji Telah Berangkat ke Tanah Suci, Tujuh Orang Dilaporkan Wafat

Dalam upacara Hardiknas bertema “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, Wali Kota menyampaikan komitmennya untuk menyelesaikan semua persoalan tersebut.

Beberapa langkah yang akan dilakukan, di antaranya revitalisasi sekolah, penguatan digitalisasi pembelajaran, peningkatan kesejahteraan dan kualitas guru.

Pemkot Cimahi juga berkomitmen membangun suasana sekolah yang bebas dari aksi bullying (perundungan), sesuai arah kebijakan nasional.

Baca juga: Seribu Jemaah dari Berbagai Provinsi Hadiri Tabligh Akbar Ponpes Ulul Albab

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, sekolah tidak bisa berjalan sendiri, guru tidak boleh ditinggalkan sendiri. Kita membutuhkan komitmen seluruh stakeholder,” tegas Ngatiyana.

Penyelesaian persoalan dunia pendidikan menurutnya memerlukan keterlibatan pentahelix, yakni kolaborasi antara masyarakat, dunia usaha, serta media.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *