Begini Penjelasan Kemenag Lebaran 2026 Jatuh di Hari Sabtu

Nasional154 Dilihat

Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengumumkan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriyah yang juga menandai Lebaran 2026 jatuh pada Sabtu (21/3/2026).

Pengumuman itu disampaikan Menag Nsaruddin Umar sebagai hasil dari Sidang sbat yang diselenggarakan di Auditorium H.M. Rasjidi Kantor Kemenag RI, Jakarta, Kamis (19/3/2026).

“Kami bermusyawarah mengacu pada hasil hisab dan rukyat yang dilakukan tim Kemenag RI di 117 titik di seluruh Indoesia, bahwa hilal tidak terlihat,” ungkap Menag.

Baca juga: Hasil Sidang Isbat, Lebaran 2026 Jatuh Hari Sabtu

Ia menjelaskan bahwa dalam penatapan bulan Qomariyah, Indonesia menggunakan visibilitas hilal MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Kriteria MABIMS menetapkan, munculnya bulan baru jika ketingian hilal di atas ufuk minimal tiga derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

Namun dari hasil pengamatan hilal hari ini kata Nasaruddin Umar, diperoleh data hasil hisab tidak memenuhi kriteria MABIMS.

Baca juga: Keceriaan Anak-anak dan Penyandang Disabilitas Nikmati Mudik Gratis Kemenhub RI

Ketinggian hilal diketahui antara 0 derajat 54 menit 27 detik hingga 3 derajat 7 menit 53 detik, dan sudut elogasi 4 derajat 32 menit 40 detik hingga 6 derajat 6 menit 11 detik

“Secara hisab, data hari ini tidak memenuhi keiteria visibilitas hilal MABIMS. Berdasarkan data hisab dan laporan tidak adanya hilal, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriyah jatuh pada hari Sabtu 21 Maret 2026,” kata Menag.

Dengan ditetapkannya pada tanggal tersebut, maka Ramadan 1447 Hijriyah genap menjadi 30 hari. Mayarakat yang mengikuti penetapan pemerintah, maka Jumat (20/3/2026) masih melaksanakan puasa.

Baca juga: Kemenag Agendakan Sidang Isbat, 117 Titik Se-Indonesia Jadi Lokasi Pengamatan Hilal

Sebelumnya, Kemenag menyelenggrakan rukyatul hilal atau seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Rukyat Kemenag RI, untuk menyampaikan hasil pengamatan hilal.

Dalam penentuan 1 Syawal 1447 Hijriyah, pengamatan hilal dilaksanakan di 117 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Hasilnya dikirim ke Kemenag RI untuk dilakukan verifikasi dalam sidang isbat tertutup.

Cuaca mendung di sejumlah wilayah RI uga disebut membuat hasil pengamatan di beberapa titik belum terlihat hilal. Daerah yang melaporkan tak melihat hilal diantaranya wilayah Ambon, Jakarta, Bandung, Yoyakarta, Kaltim, dan lainnya.

Baca juga: Raih Kepercayaan Tinggi, Baznas Kabupaten Bandung Optimis Capai Target Pendapatan Rp18 Miliar

Sidang isbat dihadiri Ketua Komisi VIII DPR RI, Ketua MUI, Ahli ilmu Falak (astronomi), Pimpinan Ormas Islam, BMKG, BRIN, Badan Informassi Geospasial, Boscha ITB, dan Planetarium Jakarta.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *