Wagub Jabar Prihatin Budaya Sunda Mulai Luntur di Zaman Modern

Jawa Barat163 Dilihat

Kota Bandung – Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengungkapkan keprihatinannya terhadap budaya Sunda yang dinilainya mulai luntur di tengah kemajuan dan perubahan zaman.

Lunturnya budaya Sunda kata Erwan Setiawan, ditandai dengan berkurangnya generasi muda Sunda mengenal budaya leluhur mereka sendiri, mulai dari bahasa hingga unsur budaya Sunda lainnya.

Ungkapan tersebut disampaikan Erwan saat hadir dalam acara Milangkala Hari Kebudayaan Nasional Tahun 2026 yang digelar di Gedung Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan, Kota Bandung, Minggu (18/10/2026).

Baca juga: Tak Hanya Proses Hukum, Polresta Bandung Beri Pembinaan Remaja Pelaku Kekerasan Bermotor

“Tadi saya berbincang-bincang dengan Teh Oki, kita saat ini selaku orang Sunda merasa prihatin dengan lunturnya budaya Sunda, dengan banyaknya anak-anak kita sekarang tidak mengenal budaya Sunda,” kata Erwan.

Ia sempat menyinggung soal minimnya ruang pembelajaran bahasa Sunda di Sekolah Dasar yang kini tergeser dengan meningkatnya pembelajaran dan penggunaan bahasa asing.

Padahal menurutnya, di masa lalu pembelajaran bahasa Sunda mendapatkan porsi yang cukup besar. Termasuk ketika bahasa Sunda menjadi bahasa wajib digunakan siswa setelah bahasa Indobesia.

Baca juga: Di Tengah Keterbatasan APBD, 95 Persen Sekolah di Kabupaten Bandung Butuhkan Revitalisasi

Di sekolah, posisi bahasa Sunda saat ini menurut penilaian Erwan, tak lagi berada di tempat teratas. Padahal sekolahnya berada di tatar Jawa Barat.

“Dulu di sekolah dasar bahasa wajib kita setelah bahasa Indonesia adalah bahasa Sunda, sekarang tergantikan dengan bahasa asing,” kata dia.

Selain bahasa, pengenalan unsur budaya lain seperti kesenian khas Sunda juga dinilainya mengalami penurunan. Ia mencontohkan tari Jaipongan dan rampak sekar yang dulu menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Baca juga: Kementerian ATR/BPN dan BRAN Susun Pembagian Tugas dan Kewenangan Sukseskan Reforma Agraria

Untuk itu, sekolah menurutnya menjadi tempat yang memiliki peran penting dalam upaya melestarikan budaya Sunda yang begitu kaya tak sebatas bahasa, melainkan unsur lain seperti kesenian, bahk termasuk tata krama.

“Melestarikan budaya bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan bahwa kemajuan tidak membuat kita kehilangan jati diri,” tegasnya.

Menurut Erwan, pelestarian budaya bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu, melainkan memastikan identitas dan nilai-nilai luhur masyarakat Sunda tetap hidup di tengah perubahan zaman.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *