Kota Bandung – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan gagasan terkait sarana transportasi umum dalam konsep yang berbeda, yakni mengganti seluruh angkot (angkutan kota) yang sudah tua.
Dengan konsep tersebut, sopir tak lagi menyetor sejumlah uang kepada pemilik mobil. Dedi Mulyadi yakin solusi yang disampaikannya itu akan mampu meningkatkan kesejahteraan sopir angkot, disamping juga membuat penumpang lebih nyaman.
Ide terkait angkot menurut Dedi Mulyadi (KDM) merupakan salah satu solusi mengatasi masalah kemacetan di wilayah perkotaan seluruh Jawa Barat, yang terjadi sebagai dampak belum tertatanya sistem transportasi.
Baca juga: Pemerintah Sebut Separuh Dari 182 Sekolah Rakyat Miliki Gedung Permanen
“Tidak usah lagi setor pada tuannya tetapi dibuat karakter wilayah, dimana nanti mobilnya ramah lingkungan, ramah anak, ramah ibu hamil kemudian juga memberikan kesejahteraan bagi para sopir,” kata KDM.
Pernyataan itu disampaikannya saat memberikan sambutan pada pembukaan 44th Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO 44) yang diselenggarakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di Bandung, Selasa (20/10/2026).
Disampaikan KDM, pemerintah sangat memerlukan engineer dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang bersifat jangka pendek seperti kemacetan dan banjir. Maka dalam kesempatan itu, ia mengajak PII untuk melakukan diskusi bersama pihaknya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan para insinyur akan kode etik profesi yang harus dijaga dan dijunjung tinggi layaknya profesi kedokteran.
“Para insinyur ini sebenarnya sama dengan dunia kedokteran, problem yang terjadi diakibatkan salah perencanaan, salah teknis engineering pengelolaan itu harus secara terbuka di omongin itu siapa,” ujarnya.
Merespons paparan Gubernur Jawa Barat, Ketua Umum PII Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie menyatakan pihaknya siap menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, salah satunya dalam sektor transportasi.
Baca juga: Wagub Jabar Prihatin Budaya Sunda Mulai Luntur di Zaman Modern
“Transportasi umum dalam bentuk angkot ini memang kita mencari sesuatu yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Konsep secara umum tetap ada lapangan pekerjaan untuk para pengemudi angkot. Jadi konsep telah diubah, pengemudi angkot kedepan seperti UKM dia akan memiliki sendiri,” jelasnya.
Ia menyinggung soal pentingnya penerapan sistem elektrifikasi pada sarana transportasi umum, termasuk angkot, agar lebih terstandar.***(Heryana)





























