Doa dari Bandung untuk Jurnalis yang Hilang di Laut

Bandung Raya694 Dilihat

Kota Bandung – Doa mengalir dari Masjid Agung Bandung untuk para jurnalis yang belum ditemukan setelah menjalankan tugas liputan di tengah musibah di laut. Dukungan juga diberikan kepada keluarga dan tim pencarian yang masih menanti kepastian kabar.

Doa tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus penghormatan terhadap para jurnalis yang menjalankan tugas di tengah situasi berisiko. Bagi sejumlah pihak, pekerjaan jurnalistik bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi bagian dari upaya masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai sebuah peristiwa.

Ulama K.H. Shodiq Nawawi mendoakan agar para jurnalis yang hingga kini belum ditemukan mendapatkan jalan terbaik dari Allah SWT. Ia juga meminta keluarga mereka diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi situasi yang belum memiliki kepastian.

Baca juga: Tangani ASN Terlibat Judol, Pemkab Bandung Bentuk Tim dan Lakukan Pendalaman

K.H. Shodiq menilai para jurnalis tersebut sedang menjalankan tugas ketika musibah terjadi. Karena itu, ia berharap mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

“Yakin, para jurnalis itu termasuk syuhada karena mereka sedang melaksanakan tugas liputan untuk menyempurnakan pengetahuan dan pengalaman,” ujar K.H. Shodiq.

Ia juga mendoakan agar amal para jurnalis tersebut diterima Allah SWT. Pernyataan itu disampaikan sebagai bentuk penghormatan sekaligus penguatan moral bagi keluarga yang masih menunggu kabar.

Baca juga: Diskominfo Kabupaten Bandung Ajak Masyarakat Bijak Bermedia Sosial Lewat Pemahaman Risiko Digital

Dukungan serupa disampaikan Ketua Nazir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah. Pada 16 September 2026, ia menyerukan agar doa bagi para jurnalis yang belum ditemukan terus diperkuat.

Menurut Roedy, doa menjadi salah satu bentuk kepedulian Masjid Agung Bandung terhadap keluarga korban dan tim yang masih bekerja mencari keberadaan para jurnalis.

Ia mengatakan, doa bersama dilakukan setelah salat Zuhur dan diikuti lebih dari 200 jemaah. Dari masjid tersebut, doa dipanjatkan agar keluarga yang menunggu diberikan kekuatan sekaligus agar tim pencarian memperoleh kemudahan dalam menjalankan tugas.

Baca juga: Wagub Jabar Pada Mahasiswa Baru Ikopin: Koperasi Berperan Penting dalam Pertumbuhan Ekonomi

“Dengan kekuatan doa ini, salah satu bentuk kepedulian dari keberadaan kami selaku Nazir Masjid Agung Bandung,” kata Roedy.

Suasana doa tersebut juga mendapat perhatian dari Rob Hammink, jurnalis asal Belanda yang kini menulis novel Jodoh. Ia turut menyampaikan doa bagi para jurnalis yang mengalami musibah di laut.

Bagi Hammink, penghormatan terhadap jurnalis dalam doa tersebut memiliki makna yang kuat. Meski tidak memahami teks doa yang dibacakan, ia mengaku dapat merasakan pesan yang disampaikan melalui suasana di masjid.

Baca juga: Sebut Sampah Sebagai Masalah Pribadi, Ketua DPRD Kota Cimahi Ajak Warga Kelola Mandiri

Menurut dia, jurnalis kerap harus mendatangi tempat-tempat berbahaya untuk menjalankan tugas dan memberikan informasi kepada masyarakat. Ia mengatakan pengalamannya selama sekitar 30 tahun menjadi wartawan membuatnya memahami risiko profesi tersebut.

Hammink pernah menjalankan tugas jurnalistik di sejumlah wilayah yang menghadapi situasi sulit, termasuk Afrika, Kongo, Irak, dan Kashmir. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa pekerjaan jurnalistik tidak selalu berlangsung dalam kondisi aman.

“Saya sangat mengerti apa artinya itu, karena saya sendiri 30 tahun menjadi wartawan untuk Telegraph,” ujarnya.

Baca juga: Tak Perlu Dua Bulan, Dengan Metode Baru Ini Pemadaman Kebakaran Lahan Punclut Ditargetkan Selesai Hitungan Hari

Kedatangannya ke Bandung sendiri berkaitan dengan perjalanan personal dan profesional. Ia membawa warisan buku harian ayahnya yang pernah tinggal di Padang pada dekade 1940-an. Catatan tersebut kemudian menjadi inspirasi novel Jodoh, yang kini direncanakan diangkat menjadi film.

Di Bandung, Hammink juga mengajar di UPI mengenai pembuatan film, penulisan skenario, dan sejarah kolonial.

Namun, di tengah agenda tersebut, perjumpaannya dengan suasana doa untuk para jurnalis yang mengalami musibah menjadi pengalaman tersendiri. Ia melihat bagaimana profesi jurnalistik mendapat penghormatan dari komunitas yang hadir.

Baca juga: Tak hanya Santunan Bagi Keluarga Korban, Dedi Mulyadi Bekali Penumpang KM Virgo Transport 8 yang Selamat

Pada akhirnya, doa yang dipanjatkan di Masjid Agung Bandung bukan hanya tentang pencarian terhadap mereka yang belum ditemukan. Ia juga menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita terdapat manusia yang menjalankan tugas, keluarga yang menunggu, serta risiko yang terkadang harus dihadapi seorang jurnalis ketika berada di lapangan.

Di tengah ketidakpastian, doa menjadi bentuk dukungan yang dapat diberikan kepada mereka yang masih menanti kepastian.***(Djarotmk)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *