Mimpi Pelajar SMK di Usia 81 Tahun Indonesia Merdeka: Antara Karakter, Teknologi, dan Realitas Lapangan Kerja

Bandung Raya31 Dilihat

Ironi penyumbang pengangguran tertinggi di negeri ini memicu diskursus mendalam. Ketika ijazah dan hard skill beradu dengan tuntutan industri modern, di mana letak celah yang sesungguhnya?

Kota Bandung – Usia kemerdekaan Republik Indonesia telah menginjak angka 81 tahun—sebuah fase matang di mana seharusnya bonus demografi terserap sempurna dalam ekosistem produktif bangsa.

Namun, di balik angka kemerdekaan tersebut, sebuah paradoks mengenyahkan asa: Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kerap dituding sebagai penyumbang angka pengangguran tertinggi di negeri ini.

Apakah benar anak-anak SMK memiliki mimpi yang ketinggian, ataukah jalannya memang sengaja diputus oleh sistem?

Baca juga: Dedi Mulyadi Apresiasi Botok Cs Hindari Kerusuhan di Aksi Desak DPR Sahkan RUU Perampasan Aset

Pertanyaan mendasar ini mengemuka dalam forum diskusi terbuka lintas sektor yang mempertemukan pihak sekolah, pengusaha, komunitas, hingga media. Di tengah stigma miring tersebut, secercah optimisme justru terpancar dari data internal institusi vokasi.

Ambil contoh data Tracer Vokasi SMK Negeri 1 Bandung. Berdasarkan dokumen tahun 2024, dari total lulusan, tercatat sebanyak 44,2 persen langsung bekerja, 27 persen melanjutkan studi, 12,9 persen mengombinasikan studi dan bekerja, serta 8,2 persen sukses berwirausaha.

Angka ini menyisakan persentase pengangguran yang sangat kecil. Lantas, mengapa stigma negatif terhadap lulusan SMK seolah tak pernah surut?

Baca juga: Tutup Jalan Habiskan 2,7 Miliar, Pemkot Bandung Evaluasi Car Free Day dan Braga Beken

Karakter di Atas Segala Kompetensi

Menanggapi fenomena ini, pengusaha asal Bandung, Perry Tristianto, memandang bahwa persoalan utama terletak pada disparitas kualitas dan pembentukan karakter.

Menurut Perry, di era disrupsi teknologi di mana kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT kian masif menghadirkan informasi instan, keterampilan teknis (hard skill) semata tidak lagi cukup.

“Teknologi hanya membantu manusia, jangan tergantung padanya. Karakter tidak ada di dalam AI. Kalau mudanya karakternya sudah rusak, tuanya akan susah. Tata krama, komunikasi, dan kejujuran adalah modal utama yang membuat seseorang bertahan berpuluh-puluh tahun di industri.” ujar Perry, Jumat (28/08/2026).

Baca juga: Pasokan Kepokmas Aman, Harga Daging Ayam ‘Kebangetan’

Perry menekankan bahwa industri pariwisata dan bisnis modern sangat menjunjung tinggi etika dan integritas. Seringkali, lulusan sarjana sekalipun kalah saing di lapangan jika mengabaikan adab dasar profesionalisme.

Hal ini sejalan dengan apa yang diterapkan di SMKN 1 Bandung. Kepala Sekolah SMKN 1 Bandung, Drs. Lilis Yuyun, M.MPD., menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri nyata melalui kemitraan strategis.

Di sisi lain, pembentukan karakter anak didik berpegang teguh pada falsafah lokal Jawa Barat, yakni karakter Pancawaluya: cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.

Baca juga: Ini Alasan Wyndham Fokus Dukung Dunia Pendidikan Lewat Program dan Kerja Sama

Sementara itu, Martin B. Chandra, Co-founder Komunitas Bandung Ngariung, menyoroti pergeseran masif di dunia kerja global. Status sebagai “karyawan tetap” perlahan mulai terkikis, digantikan oleh sistem kontrak berbasis produktivitas dan indeks kinerja atau Output Per Day (OPD).

“Komunitas hadir sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan industri yang mandiri. Industri tidak bisa dipaksa membuka pintu jika calon tenaga kerja tidak menyiapkan proyeksi kompetensi yang relevan,” ungkap Martin.

Perwakilan media, Saeful Zaman, menambahkan bahwa tantangan terbesar Gen Z saat ini adalah melepaskan diri dari zona nyaman dan pesimisme struktural. Dibutuhkan apa yang disebut sebagai mental nomor satu—mental yang berani mengambil langkah satu langkah di depan (one step ahead) dibandingkan yang lain.

Baca juga: Lagi, Wyndham Casablanca Jakarta Hibahkan Satu Unit Mock-up Room, Dukung Perkuliahan Poltekpar NHI Bandung

Pada akhirnya, usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia menuntut kolaborasi nyata lintas elemen. Ketika rakyat bahu-membahu merajut kepedulian, memadukan ketajaman karakter, penguasaan teknologi yang bijak, serta mentalitas unggul, mimpi pelajar SMK untuk berdiri tegak di panggung global bukan lagi sebuah ilusi semata.***(Djarotmk)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *