Kota Bandung – Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan moda transportasi yang mampu menciptakan konektivitas antar pulau, sehingga terbangun sebuah ekosistem perekonomian yang kuat.
Akhirnya, transportasi yang demikian menjadi kebutuhan dasar masyarakat dalam mengakses pembangunan berbagai bidang, termasuk kesehatan, pendidikan, hingga distribusi logistik ke seluruh wilayah.
Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Gita Amperiawan, saat memberikan sambutan dalam simposium Nasional HUT ke-50 PTDI, Rabu (26/8/2026).
”Indonesia adalah negara kepulauan. Konektivitas bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar pembangunan. Banyak wilayah membutuhkan pesawat yang mampu menjangkau bandara pendek, membawa manusia, logistik, layanan kesehatan, dan harapan ekonomi ke berbagai penjuru Nusantara,” kata Gita.
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan kesiapan PTDI untuk memenuhi segala kebutuhan transportasi udara yang andal dan mampu menghubungan antar pulau, sehingga tercipta ekosistem dirgantara sebagai investasi strategis.
Kesiapan salah satu perusahaan pelat merah itu dalam realisasinya diikuti dengan serangkaian inovasi tak hanya untuk sesaat, tetapi demi kedaulatan teknologi hingga generasi masa depan Indonesia.
Baca juga: Dedi Mulyadi Apresiasi Botok Cs Hindari Kerusuhan di Aksi Desak DPR Sahkan RUU Perampasan Aset
Acara yang digelar di Hangar Final Assembly PTDI itu menjadi sebuah forum terbaik yang menciptakan kolaborasi apik antara pemerintah, industri dirgantara, serta operator penerbangan.
Selain menciptakan kemandirian industri penerbangan dalam negeri, kolaborasi juga bertujuan mendukung upaya pemerataan pertumbuhan ekonomi serta pelayanan publik, terutama di wilayah 3TP (tertinggal, terluar, terpencil, dan perbatasan).
Hal menarik disampaikan Febrian Alphyanto Ruddyar sebagai keynote speaker dalam Simposium Nasional HUT ke-50 PTDI. Ia menyoroti tantangan PTDI dalam merangkul sebanyak-banyaknya perusahaan dalam negeri untuk membangun kekuatan ekonomi nasional dari industri dirgantara.
Baca juga: Tutup Jalan Habiskan 2,7 Miliar, Pemkot Bandung Evaluasi Car Free Day dan Braga Beken
“Tantangan kita ke depan bukan lagi sekadar membuktikan bahwa Indonesia mampu membuat pesawat. Tantangan berikutnya adalah menjadikan kemampuan itu sebagai kekuatan ekonomi nasional melalui penguatan rantai pasok lokal,” kata Febrian.
Menurutnya, pesawat yang dibuat tentu memerlukan sejumlah komponen yang didapatkan dari pemasok. Namun Febrian mempertanyakan seberapa banyak perusahaan nasional yang bisa terlibat dalam rantai pasok komponen tersebut.
Tantangan saat ini menurutnya, harus menyatukan tiga hal yang selama ini terpisah, yakni demand (permintaan), supply (pasokan), dan financing (pembiayaan) ke dalam satu kebijakan nasional yang konsisten untuk mendukung rute perintis.
Baca juga: Pasokan Kepokmas Aman, Harga Daging Ayam ‘Kebangetan’
“Kita harus memandang rute perintis bukan sekadar subsidi sosial, melainkan investasi pembangunan ekonomi wilayah, di mana N219 dapat memperoleh peran utama sebagai penghubung konektivitas nasional,” Febrian yang juga merupakan Wakil Menteri PPN/Bappenas.
Simposium Nasional HUT ke-50 PTDI juga dihadiri Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus, Wagub Jabar Erwan Setiawan, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Ditjen Potensi Pertahanan (Kementerian Pertahanan) Sri Yanto, Dirut PT Len Industri (Persero) Joga Dharma Setiawan, serta Wakil Komisaris Utama PTDI, Bagus Puruhito.
Momen perayaan 50 tahun PTDI juga dirangkaikan dengan dua kegiatan lain. Di antaranya peresmian Hanggar FAL N219, ditandai penandatanganan prasasti oleh Wamen PPN/Bappenas.
Baca juga: Ini Alasan Wyndham Fokus Dukung Dunia Pendidikan Lewat Program dan Kerja Sama
Yang tak kalah penting adalah penandatanganan kesepakatan kerja sama antara PTDI dengan beberapa kepala daerah, kementerian, serta mitra industri. Sejumlah kerja sama di antaranya menyangkut investasi, pengembangan kapabilitas dan pemanfaatan produk PTDI.***(BS)

























