Ada Destinasi Baru di Bandung, Wisatawan Bisa Banyak Belajar Budaya Tionghoa

Bandung Raya28 Dilihat

Kota Bandung – Pusat Kebudayaan Tonghoa resmi hadir di Kota Bandung akan memberikan pengalaman baru berwisata sekaligus memperoleh banyak pengetahuan seputar budaya Tionghoa.

Gedung Pusat Kebudayaan Tionghoa Bandung yang digagas Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) diresmikan berbarengan dengan perayaan usia emas (50 tahun) yayasan tersebut, Selasa (25/8/2026).

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang hadir dalam peresmian Pusat Kebudayaan Tionghoa itu mengatakan, diresmikannya gedung tersebut menjadi bukti konkret berjalannya kebhinekaan di Bandung dengan sangat baik.

Baca juga: Serukan Budaya Menabung Bagi Generasi Muda, Bupati Bandung: Tak Harus Tunggu Banyak Uang

“Ini merupakan karya dari YDSP. Yayasan ini menunjukkan bahwa kebhinekaan dari kebudayaan di Kota Bandung ini bisa menyatu dan melebur dengan warga sekitar,” kata Farhan.

Untuk memperoleh manfaat yang lebih besar dari hadirnya pusat kebudayaan Tionghoa itu, Farhan berkomitmen untuk terus berupaya membuat fasilitas pendukung dan infrastruktur di sekitarnya dalam kondisi baik.

Sementara ituubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memandang keberadaan pusat kebudayaan Tionghoa memperkaya khasanah dan keragaman budaya yang ada di Kota Bandung.

Baca juga: Persib Luncurkan Skuad Musim 2026/27, Nama Pemain Asing Ini Tak Muncul, Kenapa?

Namun KDM meminta agar kehadiran gedung tersebut tidak menimbulkan jarak dengan warga sekitar. Sebaliknya, keberadaan gedun tersebut justru harus menjadi pemersatu dalam membangun produktivitas dan perekonomian warga .

“Gedung ini tidak boleh menjadi mercusuar yang semakin menjauhkan disparitas dengan lingkungan,” ujar KDM.

Tak hanya itu, KDM bahkan sangat setuju jika pusat kebudayaan Tionghoa dijadikan destinasi wisata baru. Usul untuk mempercantik akses menuju lokasi dengan ornamen khas Tionghoa bahkan dilontarkannya.

Baca juga: Bupati Bandung Sebut Optimalkan PAD Dampak TKD Kurang Satu Triliun

Keseriusan Gubernur Jabar menyulap kawasan tersebut menjadi destinasi wisata juga terlihat dari usulan yang disampaikannya tak hanya soal pembangunan fisik, tetapi penyiapan dan pemerdayaan ekonomi warga setempat.

Ia ingin agar warga di sekitar lokasi diberikan pelatihan dan pendampingan memproduksi kuliner dan aneka kriya bernuansa Tionghoa. Mereka diharapkan KDM juga diberikan keterampilan pemasaran.

“Caranya, masyarakat sekitarnya di didik bukan minta sumbangan tapi di didik punya produktivitas,” ungkapnya.

Baca juga: Wali Kota Bandung Cermati Transisi Desil, Lindungi Hak Masyarakat

Lebih dari itu, ia juga menginginkan adanya pagelaran seni budaya kompilasi antara Sunda dan Tiongkok. Hal tersebut menurutnya sangat mungkin direalisasikan, mengingat dua unsur budaya tersbut sudah menyatu sejak dahulu.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *