KDM Kaget Upah Buruh Pabrik Batu Kapur Cipatat Tak Sesuai Risiko, Iuran BPJS Bayar Mandiri

Bandung Raya33 Dilihat

Bandung Barat – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku prihatin mengetahui kondisi buruh pabrik pengolahan batu kapur di kawasan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Dalam kunjungannya ke salah satu pabrik pengolahan batu kapur di Cipatat, Dedi Mulyadi mendengarkan langsung curhat para buruh yang harus bekerja dengan risiko tinggi mengancam kesehatan mereka.

Dari video yang diunggah Senin (13/7/2026), KDM terlihat bertambah kaget ketika mengetahui besaran upah yang diterima para pekerja di pabrik tersebut tak sesuai dengan risiko kesehatan yang mengintai mereka setiap hari.

Baca juga: Senyum Ceria Murid Baru SDN Karang Mekar Mandiri 1 Cimahi Sambut MPLS

“Tiap hari bekerja dalam debu kapur begini, berapa upahnya?,” tanya KDM kepada sejumlah pekerja yang menghampirinya.

Para pekerja pun menjawab, upah mereka terima sebesar Rp120.000 per hari dengan sistem kerja borongan, padahal menurut gubernur, upah karyawan seharusnya dibayar bulanan.

Yang juga membuat KDM heran bahwa di pabrik tersebut terdapat serikat pekerja seperti yang diakui para karyawan. Namun seolah tak berfungsi untuk memperjuangkan nasib karyawan.

Baca juga: Lewat Asia Africa Festival, Kota Bandung Jaga Semangat Perjuangan Global

KDM juga berpandangan bahwa jika status mereka karyawan seharusnya mendapatkan upah standar seperti perusahaan pada umumnya. Keadaan justru sebaiknya, selain upah yang dinilai tidak layak, mereka pun membayar iuran BPJS kesehatan mandiri.

“yang membayar (iuran BPJS Kesehatan) itukita, dipotong tiap minggu Rp40.000,” ungkap salah seorang pekerja.

Kejanggalan juga terjadi pada hak yang seharusnya didapatkan seorang karyawan. Dengan debu serbuk kapur yang harus terhisap setiap hari, mereka hanya dibayar borongan dengan konsekuaensi tidak mendapat upah jika mesin mengalami kendala.

Baca juga: Geram dengan Dugaan Rasuah Febrie Adriansyah, Politisi PDIP Minta Eks Jampidsus Dihukum Mati

Parahnya lagi, seorang pekerja mengaku sudah mengalami gangguan kesehatan berupa sesak napas yang diduga akibat sering menghisap serbuk batu kapur ketika bekerja.

Sayangnya, untuk sekadar membeli masker penutup hidung dan mulut pun mereka harus merogoh kantong sendiri, tak ada perhatian dari pihak perusahaan.

“Saya juga sekarang mah sudah ada sesak, dan gak ada dokter di perusahaan,” ujar salah seorang pekerja lain.

Baca juga: Empat Dekade Bermitra, PTDI dan Bell Texton Inc Perkuat Kolaborasi Kembangkan Industri Helikopter

Di pabrik pengolahan batu kapur yang menurut pekerja merupakan milik orang Cimahi itu, meraka mendapatkan upah tak sesuai standar. Hanya Rp2,4 juta upah dibawa ulang jika tak ada kendala teknis di pabrik.

KDM menilai besaran gaji mereka sangat kecil karena mereka masih harus membayar iuran BPJS, membeli masker, dan pemeriksaan kesehatan secara mandiri.

“Geus we gawe di Aing kabeh, Aing teu rido rakyat aing dikieu-kieu. Sudah saja bekerja di saya semuanya, saya gak rido rakyat saya dibuat begini,” ujarnya geram.

Baca juga: Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Ditetapkan Tersangka, Polri dan Kejagung Rajut Kongsi

Tawaran KDM pun disambut hangat para pekerja pabrik tersebut. Sekira 50 orang mengaku siap menjadi tenaga kebersihan di bawah Dinas PU Provinsi Jawa Barat.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *