Kabupaten Bandung – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung segera merealisaikan rencana pembangunan Sekolah Menengah Atas (SMA) baru di wilayah Kecamatan Pangalengan.
Rencana tersebut sebenarnya bukan hal baru, namun menurut Bupati Bandung Dadang Supriatna sempat terganjal regulasi dalam hal pengadaan lahan untuk SMA baru tersebut.
Semula pembanguanan SMAN 2 Pangalengan itu akan menggunakan lahan carik Desa Pulosari sesuai kesepakatan masyarakat dan Kepala Desa setempat pada 2024 lalu.
Baca juga: Wagub Prihatin Banyak ASN Jawa Barat Terlibat Judol: Ada Satu Orang Sampai Rp800 Juta
Namun menurut Bupati Dadang, pembangunan terpaksa dibatalkan karena aturan yang hanya memperbolehkan penggunaan tanah carik melalui mekanisme tukar guling atau penjualan aset.
Regulasi tersebut kata Dadang Supriatna, tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 3 Tahun 2024, menyebabkan pembangunan tak bisa dilasanakan tahun ini.
“Hari ini saya menerima langsung aspirasi masyarakat yang kembali menyampaikan bahwa kebutuhan SMA negeri di Pangalengan sudah sangat mendesak,” ungkapnya dalam pertemuan di rumah dinas Bupati, Selasa (7/7/2026).
Terkait upaya pemanfaatan tanah carik tersebut, Bupati mengutus Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) untuk berkonsultasi dengan Kemendagri, serta berkoordnasi dengan Disdik Jabar.
Di sisi lain, pihaknya tengah menyiapkan anggaran pengadaan lahan seluas 6.000 meter persegi sebagai alternatif jika upaya soal tanah carik tetap terbentur regulasi.
“Saya siap menganggarkan pengadaan lahan sekitar 6.000 meter persegi melalui APBD Perubahan Tahun 2026,” ujarnya.
Seakan optimis pembangunan SMAN 2 Pangalengan itu akan selesai pada 2027, dirinya berharap Disdik Jabar sudah mulai membuka pendaftaran siswa baru tahun ajaran 2026/2027. Agar gedung baru dapat langsung digunakan tahun depan.
Di Kecamatan Pangalengan, setiap tahunnya dihasilkan 2.000 lulusan SMP. Sementara SMA dan SMK negeri yang tersedia hanya mampu menampung kurang dari setengahnya.
Untuk itu, Dadang memandang sangat penting kehadiran SMA baru untuk bisa menampung sisa lulusan SMP yang setiap tahunnya tidak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya.
“Kalau setiap tahun ada sekitar seribu anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMA, ini menjadi ancaman yang harus kita tangani secara serius,” pungkasnya.***(Heryana)


























