Rencana KDM Ubah Bedeng Perkebunan Teh Jadi Kampung Adat: Pariwisata Harus Jatuh ke Warga

Jawa Barat35 Dilihat

Kota Bandung – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berencana membangun permukiman pemetik teh (bedeng) di wilayah Pangalengan menjadi kampung adat yang akan menarik kunjungan wisatawan.

Rencana tersebut disampaikan Dedi Mulyadi kepada warga penghuni bedeng saat dirinya melakukan perjalanan ke wilayah selatan Jawa Barat. Video perjalanan tersebut dibagikan di akun media sosialnya pada Rabu (9/9/2026).

Dalam perbincangannya dengan warga perkebunan teh Pangalengan itu, Kang Dedi Mulyadi (KDM) menawarkan rencana pembangunan kampung adat yang akan mengubah bentuk kampung yang mereka tinggali saat ini.

Baca juga: Pemkab dan Baznas Kabupaten Bandung Segera Perbaiki 10 Rumah Terdampak Bencana Longsor di Kutawaringin

“Di sini dibuatkan Kampung Sunda, ini kan sudah bagus pemandangannya. Nanti lansekapnya diatur, dibikin rumah kayak rumah adat di Baduy atau Kampung Naga,” kata KDM.

Tujuan revitalisasi kampung tersebut dikatakannya agar masyarakat memiliki penghasilan tambahan dengan menyewakan rumah mereka sebagai homestay kepada wisatawan yang menikmati alam perkebunan.

Selain karena alamnya yang indah, ide mengubah permukiman warga menjadi kampung adat juga mempertimbangkan kondisi ekonomi penduduknya. Diketahui, pendapatan setiap keluarga di bedeng tersebut tak lebih dari Rp50.000 per hari.

Baca juga: Lepas Kontingen Porprov XV Jawa Barat, Ngatiyana: Berani Berangkat, Berani Berjuang

Seorang warga pemetik teh mengaku hanya mendapatkan upah Rp10.500 per hari dari memetik 15 kilogram pucuk teh. Sedangkan suaminya bekerja di pabrik teh dengan upah hanya Rp35.000 per hari.

“Jadi, pengasilan “euceu” dan keluarga rata-rata di bawah Rp50.000 per hari. Jadi kalau kemiskinan di Jabar itu adanya di Cianjur selatan, Bandung selatan, Garut selatan itu, karena upahnya rendah,” kata KDM.

Untuk itu, dengan dijadikannya sebagai kampung adat, warga akan mendapatkan pengahsilan tambahan. Bahkan tak hanya menyewakan rumahsebagai homestay, warga juga bisa menjual kreativitas lain, seperti menyajikan menu masakan khas perkampungan, hingga pertunjukan kesenian.

Baca juga: Keputusan Bijak Pasangan Muda Miliki Rumah Hunian Sejak Dini

“Di bagian depan nanti ada tempat petunjukkan, kalau ada kelompok, perusahaan, keluarga dari mana-mana ingin kemping, tapi tinggalnya di rumah warga, kemudian malamnya ada hiburan,” imbuhnya.

Mantan Bupati Purwakarta dua periode itu juga menegaskan bahwa potensi pariwisata hendaknya menjadi berkah bagi warga sekitar, bukan malah hatuh di tangan para pemilik modal besar bisnis parwisata.

Untuk itu, dirinya bersemangat akan membangun sejumlah bedeng menjadi beberapa kampung adat sebagai destinasi wisata yang akan dikelola secara langsung oleh warga sekitarnya.

Baca juga: Libatkan TNI-Polri, Pemprov Jabar Pastikan Kesesuaian Klasifikasi Kesejahteraan Masyarakat

“Makanya warga harus ada usaha tambahan, pariwisatanya jangan jatuh ke pemodal, harus jatuh ke warga yang menjaga kebun teh. Tidak terus-terusan kebun tehnya diambil sama orang yang usaha di bidang pariwisata.,” tegasnya.

Selain membangun perkampungan dengan konsep kampung adat. KDM juga berjanji akan menambah daya dukung infrastruktur berupa pelebaran jalan menuju lokasi. Dirinya mengaku siap mempromosikan kampung mereka ke beberapa sekolah unggulan di Jakarta dan daerah lainnya.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *