Menteri ESDM Ingatkan Masyarakat Mampu Tak Beralih ke BBM Subsidi

Nasional38 Dilihat

Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengingatkan jajarannya dan masyarakat mampu untuk tidak beralih menggunakan BBM bersubsidi.

Imbauan tersebut ia sampaikan di tengah naiknya harga beberapa jenis BBM non-subsidi, sebagai dampak dari dinamika geopolitik, serta berbagai dampak lainnya.

Bahlil Lahadalia menegaskan, BBM bersubsidi hanya untuk masyarakat kurang mampu dan menjadi hak mereka.

Baca juga: Adhitia Sebut Tiga Alasan Cimahi Terpilih jadi Tuan Rumah Rakor Disdukcapil se-Jawa Barat

“BBM subsidi itu kepada saudara-saudara kita yang berhak. Jangan model kayak saya, kayak Dirjen, Wamen, karena harga BBM RON 98 naik, tiba-tiba kita pindah ke subsidi,” ujarnya, di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Dengan mencoba beralih ke BBM bersubsidi, Bahlil menyebut golongan yang demikian telah mengambil hak masyarakat yang seharusnya menikmati BBM bersubsidi.

“Saya cuma mau sampaikan aja, itu namanya mengambil hak saudara-saudara kita yang berhak menerimanya. Apa gak malu kita?,” ujarnya.

Baca juga: Hadiri DSA 2026, Langkah Strategis PTDI Perkuat Kerja Sama Bidang Pertahanan dengan Malaysia

Dalam konferensi pers tersebut, Bahlil juga menjelaskan soal kebijakan pembatasan pembelian BBM bersubsidi untuk angkutan umum maksimal 50 liter per hari per mobil.

Menurutnya, pembatasan tesebut masih cukup longgar dan tak akan menyulitkan masyarakat. Ia pun berdalih, 50 liter BBM dapat digunakan hingga 300 kilometer perjalanan.

“Saya kan waktu di Seoul (Korea Selatan) menyampaikan bahwa BBM-nya itu akan diberikan per hari 50 liter. 50 liter itu kan tanki sudah penuh, sudah bisa 300 kilometer lebih,” jelasnya.

Baca juga: Tingkatkan Keamanan Pengguna, Pemprov Jabar Lengkapi Jembatan Cirahong dengan Kamera Pengawas

Ia juga menegaskan bahwa pembatasan tersebut tidak berlaku untuk kendaraan besar pegangkut kebutuhan pokok masyarakat dan logistik.

Namun, Menteri ESDM mengingatkan bahwa pengawasan akan ia perketat, terutama jika pelonggaran penggunaan BBM bersubsidi justru malah dimanfaatkan oleh truk pengangkut kelapa sawit dan hasil tambang.

“Kalau motor sampai sekarang mau diisi berapa saja gak apa-apa. Kita harus punya hati. Pengawasan itu ada, tapi yang paling penting keinsyafan dari diri kita,” pungkasnya.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *