Sukses Soal Ketahanan Iklim, Desa Kertawangi Jadi Contoh Negara Sahabat

Bandung Raya38 Dilihat

Bandung Barat – Sejumlah perwakilan negara sahabat mengunjungi Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dalam rangkaia program Global Knowledge Sharing Workshop on Community-Approaches for Resilience.

Wilayah tersebut dipilih oleh Kementerian Desa menjadi site visit untuk pelaksanaan program yang diinisiasinya tersebut berkaitan dengan isu ketahanan iklim

“Indonesia yang diwakili Desa Kertawangi memiliki praktek baik dalam ketahanan iklim,” ungkap Faizal Firdaus, Kabid Penataan dan Kerjasama Desa pada Dinas Pemberdayaan Masarakat dan Desa (DPMD) KBB.

Baca juga: Luar Biasa, Uang Miliaran Diraup Sudewo dari Atur Jabatan Perangkat Desa di Kabupaten Pati

Dalam kegiatan peninjauan lapangan, Rabu (21/1/2026), sejumlah perwakilan dari Madagaskar, Papua Nugini, Kamboja, dan Peru mengunjungi Desa Kertawangi serta beberapa lokasi yang menunjukkan keberhasilan desa tersebut dalam ketahanan iklim.

Faizal mengatakan, dipilihnya Desa Kertawangi yang dipimpin Kepala Desa Steve Ewon karena pengalaman berhasil keluar dari masalah kekeringan pada 2003 silam setelah gencar melakukan penanaman pohon.

“Memang selama itu sampai sekarang sudah puluhan ribu pohon yang ditanam, sehingga Pak Kades Steve Ewon mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat,” sambungnya.

Baca juga: Petualangan Menikmati Sensasi Kuliner Nusantara, 10 Hidangan Indonesia Nan Menggoda di Wyndham Culinary Journey

Penanaman pohon dijelaskan Faizal merupakan salah satu dari beberapa langkah strategis yang dilakukan desa dalam program ketahanan iklim. Namun manfaatnya sangat besar terhadap kelangsungan hidup masyarakat.

Ia mencontohkan keberhasilan Desa Kertawangi atas program reboisasinya adalah mampu keluar dari masalah kekeringan. Manfaat tersebut, kata Faizal bahkan meluas hingga memiliki debit air yang cukup besar.

“Karena program yang dilaksanakan Kepala Desa ini, sehingga masyarakat dapat dengan tenang memanfaatkan air untuk kebutuhan sehar-hari, termasuk untuk lahan pertanian mereka,” ungkapnya.

Baca juga: Hore! Underpass Jalan Gatot Subroto Cimahi Dibangun Maret 2026

Cadangan air dengan debit yang begitu besar hingga kini di miliki Desa Kertawangi dan terjaga dengan baik di Situ Reret. Jika dulu warga harus menempuh perjalanan jauh mendapatkan air bersih dari mata airnya, kini alirannya langsung dimanfaatkan dalam jarak sangat dekat.

Selain Situ Reret yang menjadi lokasi peninjauan para perwakilan negara sahabat, juga terdapat Curug Bugbrug yang memiliki debit air sangat besar, bahka bisa memasok kebutuan sebagian Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi.

“Ini juga digunakan PDAM Tirtawening yang manfaatnya debit air ini masih melimpah, baik di musim penghujan, maupun kemarau,” tutur Faizal.

Baca juga: OTT Beruntun, KPK Comot Dua Kepala Daerah Dalam Sehari

Ia menjelaskan bahwa dari pengamatan yang dilakukan pihaknya, perubahan iklim ditandai dengan alam yag tidak mampu menjaga manusia karena manusia tak menjaga alam dengan membiarkan penebangan pohon.

Sementara itu, kegiatan diskusi lintas negara dalam program tersebut memberi dampak positif akan terjadinya pertukaran informasi, termasuk gagasan yang diadopsi dari pengalaman negara lain yang dibagikan.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *