Hadapi Dilema Berat, di Usia Hampir Seabad Hotel Tjimahi Kini Ikhlas Dilepas

Bandung Raya130 Dilihat

Kota Cimahi – Siapa yang tak mengenal atau hanya sekadar tahu dengan Hotel Tjimahi. Sebuah penginapan yang berada di jantung Kota Cimahi, tepat di jalur nasional.

Jika orang mengenal Hotel Tjimahi karena penulisan namanya yang menunjukkan bahwa hotel tersebut bukan bangunan baru adalah tak salah.

Namun sangat sedikit orang mengetahui jika hotel yang berlokasi di jalan Jenderal Amir Mahmud itu pernah disinggahi oleh mendiang Ani Yudhoyono, istri dari Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Baca juga: Sekolah Maung, Terobosan KDM Bangun Generasi Muda Jabar Unggul dan Siap Kerja

Dalam kisah yang diceritakan pemilik Hotel Tjimahi, Theresia Gerungan Soetamanggala, Ani Yudhoyono bersama ayahnya, Sarwo Edhie Wibowo sempat menjadi tamu istimewa di hotel yang kini brusia 99 tahun itu.

Saat ditemui pada Selasa (6/1/2025), Theresia menceritakan sejarah bangunan yang sebelumnya merupakan tempat tinggal keluarga. Dahulu dikenal sebagai Wisma Pension atau Losman Cimahi, sebelum akhirnya resmi menjadi Hotel Tjimahi pada 1927.

Usia Hotel Tjimahi yang kini menginjak 99 tahun memang terbilang masih muda jika dibandingkan dengan sejarahnya sejak zaman kolonial, ketika dibangun oleh pasangan Nyi Raden Fatimah Singawinata dengan seorang Belanda bernama Veen.

Baca juga: Pokja Bandung Barat Minta DLH Transparan Soal Penggunaan Anggaran 2025

Dengan begitu, sangat jelas jika Hotel Tjimahi menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa ini melewati beberapa generasi dan rezim. Dari masa kolonial hingga milenial, bahkan tiba di kelahiran generasi Alpha.

Jika pemerhati sejarah mencatat bahwa di Indonesia sempat terjadi peristiwa Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), maka Hotel Tjimahi merasakan suasananya langsung ketika sempat disinggahi Raymond Westerling dan sejumlah pasukan militer.

Semua bukti sejarah itu masih terjaga dengan baik diHotel Timahi, termasuk bentuk bangungan yang masih kokoh menjadi saksi hingga saat ini.

Baca juga: Wali Kota Cimahi Sebut Sinergitas Bersama DPRD Jadi Kunci Capaian Pembangunan 2025

Sayangnya, seluruh rangkaian sejarah yang diceritakan Theresia serta catatan yang akan terukir ke depan, kini dalam posisi terancam berhenti ketika sebuah rencana penjualan Hotel Tjimahi menyeruak.

Hotel di atas lahan 3.254 meter persegi itu dikabarkan dalam proses penjualan oleh sang pemilik yang merupakkan generasi ketiga (cucu) dari Nyi Raden Fatimah Singawata.

Di era media sosial saat ini, isu penjualan Hotel Tjimahi lebih cepat diketahui publik, melebihi kecepatan tersebarnya sejarah panjang bangunan itu. Sebuah akun TikTok mengabarkan nilai Rp35 miliar yang ditawarkan pemilik.

Baca juga: Jangan Panik, Kenali Super Flu untuk Penaganan yang Tepat

Kabar tersebut sontak menggetarkan perasaan publik, termasuk mereka yang belum sepenuhnya memahami bagaimana beratnya perjuangan Theresia dalam mempertahankan idealisme yang terbangun lebih dari seabad.

“Semua juga bilang jangan, sayang kalau dijual. Tapi jujur, saya sudah enggak kuat lagi. Sudah eungap lah ya, bahasa Sundanya,” ungkap Theresia.

Dirinya mengaku kini berada dalam sebuah dilema besar yang ia pertahankan puluhan tahun, antara ingin mempertahankan warisan yang sarat kenangan, dengan beban biaya operasional yang tak bisa dihentikan.

Baca juga: Jawa Barat Jadi Salah Satu Wilayah Sebaran Tertinggi Super Flu di Indonesia

“Buat PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) saja setiap tahun minimal Rp60 juta, karena ini kawasan premium. Anak-anak sudah punya jalan hidup masing-masing,” sambungnya.

Theresia mengisahkan salah satu masa sulit yang dihadapi, ujian berat Pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu miasalnya, ia lalui tanpa memberhentikan atau merumahkan para pegawainya kendati operasional hotel ditutup.

“Enggak ada bantuan dari pemerintah juga. Teman saya di Tangerang dapat diskon PBB sampai 30 persen. Saya ke pemkot malah didenda,” kisahnya.

Baca juga: Hanya Bawa Satu Poin dari Brawijaya, Persib Gagal Rebut Puncak Klasemen

Diakui Theresia, dirinya telah melewati waktu selama enam tahun untuk bisa ikhlas melepas warisan yang tak ternilai harganya itu. Kendati demikian, dalam hatinya ia berharap pemilik berikutnya tak melakukan perubahan atau bahkan merombak bangunan yang selama tiga generasi itu terjaga.

“Atau kalau ada investor yang mau bantu, saya sangat terbuka dengan segala opsi,” pungkasnya.***(Heryana)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *