Kabupaten Sumedang – Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Sumedang Maman Wasman mengungkapkan kegiatan edukasi masyarakat akan pentingnya menanam pohon.
Edukasi dilakuan DLHK Kabupaten Sumedang dalam berbagai aktivitas masyarakat, termasuk kepada pengunjung dan wisataan Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Kunci.
Kegiatan menanam pohon menurut Maman Wasman merupakan langkah strategis yang bisa dilakukan setiap orang dalam rangka mitigasi perubahan iklim yang saat ini nyata terjadi di depan mata.
Baca juga: Wamen ATR/BPN-Wamenlu Bahas Penyelenggaraan Hak Atas Tanah Pihak Asing
“Perubahan iklim sudah di depan mata, ada La nina, El nino, curah hujan sangat tinggi, sementara daya dukung alam sudah overload. Akhirya, ketika terjadi hujan berlebihan, meskipun vegetasi masih rapat tetap terjadi longsor,” tutur Wasman di Sumedang, Kamis (15/1/2026).
Ia melanjutkan, kondisi alam saat ini perlu menjadi bahan renungan bagi semua pihak dalam menghadapi perubahan iklim melalui upaya adaptasi hingga mitigasi.
Pembangunan yang terus berlangsung menjadi contoh penyebab terjadinya perubahan iklim setelah tutupan lahan terus mengalami pengurangan sebagai konsekuensinya.
Baca juga: Tahura Gunung Kunci, Wisata Murah Meriah di Hutan Sarat Sejarah
“Tutupan lahan di Sumedang ini kan sedikit banyaknya mengalami pengurangan dengan pembangunan seperti bendungan Jatigede, tol Cisumdawu, tol Cipali, dan lainnya,” sambung Wasman.
Pembangunan menurutnya penting dilakukan untuk memenuhi kebutuhan, namun untuk mengimbangi atau bahkan mengganti tutupan lahan yang berkurang perlu dilakukan langkah konkret dengan menanaman pohon.
Kampanye itu pun kini gencar dilakukan DLHK Kabupaten Sumedang. Diantaranya berupa ajakan dan edukasi yang secara intens dilakukan kepada para pengunjung Tahura Gunung Kunci.
Baca juga: Ono Surono Penuhi Panggilan KPK Kaitan Kasus Ijon Proyek Kabupaten Bekasi
“Kita, dalam konteks Gunung Kunci menyampaikan itu sebagi sub materi yang dsiampaikan pada siswa. Makanya ayo menanam, supaya tutupan lahan meningkat. Setiap ke sini, mereka kita kasih bibit tanaman supaya mereka gemar menanam,” imbuhnya.
Gerakan menanam pohon bagi Wasman tak hanya sebatas urusan duniawi. Sebagai muslim, ia memahami betapa pentingnya kegiatan itu bahkan jika diketahui kiamat akan terjadi esok hari, seperti penjelasan sebuah hadits yang sempat ia kutip.
Dalam hadits lainnya dijelaskan juga manfaat dari menanam pohon sebagai kegiatan ibadah yang pahalanya akan terus mengalir hingga seseorang meninggal dunia.
Baca juga: Kementerian ATR/BPN Tindaklanjuti RUU Administrasi Pertanahan: Jamin Kepastian Hak Atas Tanah
“Satu hadits lagi yang diriwayatkan Al Baihaqi, ada tujuh perkara yang pahalanya mengalir ke dalam kubur setelah meninggal, salah satunya adalah menanam pohon,” terangnya.
Keterangan tersebut baginya sangat masuk akal, karena kegiatan tersebut dapat memberi manfaat bagi masyarakat secara luas bahkan hingga ke beberapa generasi berikutnya.
“Secara, ketika kita menanam bisa dimanfaatkan orang banyak, kemudian berbuah, menghasilkan oksigen, menghasilkan air. Ayo menanam sebagai mitigasi kita terhadap perubahan iklim,” ajak Wasman.
Baca juga: Januari 2026 Pidana Kerja Sosial Mulai Diberlakukan, Begini Penjelasan DPR RI
Meski pembangunan di Kabupaten Sumedang terus menggeliat, kabar baik masih dibagikan Wasman, yakni mengenai prosentase tutupan lahan yang masih berada di atas 60 persen dari total luas wilayahnya.
Kondisi tersebut berdampak positif juga terhadap indeks kualitas udara di wilayah Sumedang yang terbilang masih cukup baik. Hanya saja ia memberi catatan pada indek kualitas air.
“Di Sumedang, indeks tutupan lahannya masih bagus, diatas 60 persen. Kualitas udara pun masih relatif bagus. Nah, indeks kualitas air mulai memburuk, karena itu sistemik ya, tata kelola pertanian kita masih anorganik,” ungkap Wasman.
Baca juga: Bupati Bandung Minta Dinas Pertanian Hapus Program Tak Sesuai Upaya Swasembada Pangan Nasional
Penggunaan pupuk anorganik di persawahan yang airnya mengalir ke sungai, kata Wasman, memengaruhi kualitas air di Sumedang. Hal tersebut sudah pihaknya buktikan melalui penelitian.
“Kita mengambil sampel itu di upstream-nya dimana, kemudian downstream-nya dimana, kita komparasikan dan ternyata terjadi degradasi kualitas air,” tutup Wasman.***(Heryana)





























