Kota Bandung – Beberapa waktu belakangan perhatian publik tersedot pada isu Super Flu. Spekulasi pun seketika bertebaran di berbagai platform media sosial, atau dalam perbincangan sehari-hari tentang dampak dari penyakit dengan penyebab virus influenza A(H3N2) itu.
Peneliti dan Pakar Neurosains Dr.Tauhid Nur Azhar, M.Kes., M.Si.Med. dalam keterangannya mengingatkan publik akan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap influenza A(H3N2), terutama bagi kelompok rentan.
Dr. Tauhid mengupas tentang virus H3N2 yang ternyata memiliki keterikatan silsilah dengan virus H1N1. Hanya saja, kewaspadaan terhadap H3N2 penting menurut Tauhid karena potensi timbulkan gejala klinis yang lebih berat.
Baca juga: Jawa Barat Jadi Salah Satu Wilayah Sebaran Tertinggi Super Flu di Indonesia
Lalu, apa sebenarnya H3N2 yang kini membuat sebagian masyarakat khawatir sehingga menyebutnya dengan istilah Super Flu?
Sebagai ahli di bidang biologi molekuler, Dr. Tauhid menjelaskann jika H3N2 merupakan kode yang menunjukkan identitas virus tersebut.
“Secara biologis, virus Influenza A adalah virus RNA yang tergolong dalam famili Orthomyxoviridae. Kode “H3N2″ merujuk pada dua protein permukaan utama yang menjadi identitas virus ini,” terangnya.
Baca juga: Hanya Bawa Satu Poin dari Brawijaya, Persib Gagal Rebut Puncak Klasemen
Kode H dari H3N2 merupakan inisial dari Hemagglutinin. Inilah komponen kunci yang membuat virus bisa menempel atau bahkan masuk ke dalam sel manusia.
Sedangkan kode N merujuk pada inisial kandungan Neuraminidase yang merupakan alat virus melepaskan diri dari sel induk agar dapat menyebar dan menginfeksi sel lain.
Sementara saat ini yang menjadi perbincangan adalah influenza A(H3N2) subclade K. Dijelaskan Tauid, subclade K merupakan hasil dari evolusi atas kemampuan virus influenza bermutasi dan bercabang.
Baca juga: Senyum Ceria Anak-anak Aceh Tamiang di Hari Pertama Sekolah Pasca Bencana Sumatra
“Bayangkan virus ini seperti penjahat yang terus mengganti topeng wajahnya,” ujarnya.
Efek dari mutasi tersebut, kata Dr. Tauid, seringkali membuat antibodi yang kita miliki menjadi kurang efektif untuk dapat mengenali virus sehingga disebut dengan istilah immune escape (pelarian imun). Hal tersebut membuat virus H3N2 memiliki kemampuan menyebar lebih cepat.
Dr. Tauhid juga memberikann penjelasan lebih detail tentang bagaimana virus H3N2 subclade K itu bertransmisi atau menyebar, yakni melalui droplet, aerosol, dan fomit.
Baca juga: Update Bencana Sumatra, BNPB :1.177 Orang Meninggal Dunia
“Droplet atau percikan biasanya terjadi saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Partikel cairan mikroskopis berisi virus terlontar ke udara dengan jarak efektif 1 sampai 2 meter,” jelasnya.
Sedangkan yang dimaksud aerosol, kata Tauhid, adalah sebuah ruang dalam keadaan tertutup dengan ventilasi yag kurang baik atau bahkan tidak ada ventilasi, sehigga menyebabkan virus bertahan di dalamnya.
Pola penyebaran virus juga berlangsung dengan cara fomit (kontak sentuh). Mungkin kita masih ingat dengan pemahaman bahwa virus dapat menempel dan bertahan beberapa jam pada permukaan keras seperti meja, handle pintu, ponsel, dan benda lainnya.
Baca juga: Dinilai Hanya Bebani APBD, KDM Pertimbangkan Setop Biayai Operasional BIJB Kertajati
Sementara di wajah kita ada tiga area yang menjadi pintu masuknya virus (infeksi) dengan sangat mudah, yakni mata, hidung dan mulut.
Bagaimana Kita Bisa Mendeteksi Seorang Diduga Terinfeksi H3N2?
Seperti penjelasannya di awal, H3N2 subclade K memiliki potensi gejala klinis yang lebih berat dari sepupunya H1N1. Jadi, gejala yang terjadi pada penderita H3N2 lebih dari sekadar pilek.
“Infeksi H3N2, termasuk Subclade K, seringkali memicu respons peradangan sistemik yang lebih kuat. Gejala biasanya muncul secara akut (tiba-tiba) dalam 1-3 hari setelah paparan,” kata Dr. Tauhid.
Namun dalam kesempatan ini Dr Tauhid memberikan gambaran gejala yang umumnya muncul pada seseorang yang terinfeksi H3N2. Diantaranya demam tinggi mendadak, bisa mencapai suhu 39-40 derajat celscius. Biasanya juga disertai menggigil.
Gejala lainnya adalah rasa nyeri yang enyerang persendian secara intens. Hal itu terjadi sebagai dampak yang timbul akibat respons sitokin tubuh terhadap virus.
“Kemudian batuk kering yang persisten, ini bisa menjadi parah dan bertahan selama 2 minggu atau lebih. Lalu Sakit tenggorokan sehingga nyeri saat menelan, dan sakit kepala frontal,” sambungnya.
Baca juga: Dari Kasus Geng Motor Hingga Tambang Ilegal Jadi Catatan Kinerja Polresta Bandung Sepanjang 2025
Gejala yang lebih parah juga bisa terjadi pada anak berupa mual dan muntah. Sedangkan pada lansia, Dr. Tauhid bilang, demamnya kemungkinan tidak akan terlalu tinggi, namun berpotensi terjadi komplikasi radang paru serta memperparah secara drastis penyakit bawaan seperti jantung dan diabetes.
Langkah pengobatan bisa dilakukan masyarakat saat terinfeksi virus H3N2 dengan mengakses layanan kesehatan. Secara medis, pengobatan dengan Tamiflu yang disebut efektif menghentikan penyebaran enzim virus jika diberikan pada 48 jam pertama sejak gejala.
Untuk menangani gejala seperti demam, maka antipiretik (paracetamol) dinilai cukup efektif menurunkan demam dan rasa nyeri.
Baca juga: Jaga Kondisi Satwa dari Serbuan Pengunjung, Manajemen Bandung Zoo Berlakukan sejumlah Pembatasan
“Dalam perawatannya, pasien terinfeksi H3N2 dianjurkan untuk istirahat total karena tubuh membutuhkan energi untuk memproduksi antibodi. Kemudian perhatikan hidrasi dengan mengkonsumsi air putih, sup hangat atau cairan elektrolit,” ujarnya.
Namun yang tak kalah penting untuk diperhatikan oleh masyarakat adalah langkah antisipasi dan terbaik dalam melindungi diri, yaitu dengan menjaga PHBS, konsumsi makanan bergizi seimbang untuk menjaga imunitas tubuh.***(Heryana)

























